Panggil saja Vangke. Vangke Vanget Sartre Castro nama panjangnya. Sartre Castro adalah nama yang ia tambahkan sendiri tanpa kepungan, bancakan, atau among-among, tanpa meminta pertimbangan kawan dan tanpa izin orang tuanya. Sungguh Bangke! Diambil dari dua nama tokoh yang diidolainya, Jean Paul Sartre dan Fidel Alejandro Castro Ruz. Tokoh yang meskipun ia idolai namun tak ada sedikitpun gerakan dan pemikirannya yang mencerminkan tokoh idolanya tersebut. Bangke banget! Mbuh apa karepe!

Mahasiswa semester manula yang KTM nya sudah melalui proses laminating sebanyak enam kali. Nanti, sekali lagi dilaminating, dia bernadzar akan thawaf mengelilingi kampus. Meskipun belum pernah menunaikan ibadah haji, tapi ia sudah sering melempar jumrah. Tepatnya saat ibadah aksi penurunan harga BBM, ibadah aksi kritik terhadap rektor kampusnya, ibadah aksi konflik agraria di kotanya, bahkan saat jihad membela sahabatnya dahulu yang diserang oleh bala tentara dari SMK tetangga. Ia lemparkan jumrah pada apa yang ia anggap sebagai setan dan sarangnya. Allahu Akbar!!!

Vangke, Vangke Vanget. Mahasiswa yang sering gelisah didalam kelas, bukan karena tidak memahami materi kuliah, bukan pula karena sering didiskreditkan oleh dosen, meskipun itu hal biasa baginya. Soal keaktifan (bertanya, menjawab, dan menyanggah) di dalam kelas, ia nomor satu. Banyak sekali pernyataannya yang tidak bisa ditanggapi oleh kawan sekelasnya.

Kawan-kawannya mungkin menganggapnya kritis dan berkualitas karena mereka tahu referensi bacaannya sudah melampaui kawan sebayanya. Saat yang lain baru kenal Pram, dia sudah mengenal Shakespeare. Saat yang lain baru mengetahui bahwa Tan Malaka memiliki Aksi Massa, dia sudah menyimpan Il Principe nya Machiavelli dalam rak bukunya.

Padahal, bukan karena kualitas pernyataannya, namun karena kebiasaannya memakai bahasa ilmiah yang wawiwu dan “aktifis banget” menurutnya, juga kebiasaanya beretorika ala Plato dan Aristoteles. Ya, sering sekali didalam kelas, pernyataannya disampaikan dengan prolog berdurasi lima belas menit dengan inti masalah yang hanya berdurasi lima belas detik. Sekali lagi, bangke!

Namun bagaimanapun dia pintar, mampu mengendalikan kawan-kawan dengan pikirannya, kawan-kawan yang sering ketakutan jika kolom absennya tidak terisi, kawan-kawan berfaham “diam itu emas” ketika di dalam kelas namun berbicara melangit saat berhadapan dengan juniornya (baca: nguprus a.k.a ndobol a.k.a modus)

Kembali pada kegelisahan Vangke, dia sering mbatin dalam kelas, setelah selesai kelas kemana dia akan pulang. Sering dia tanya kepada kawan-kawannya kemana mereka pulang, variatif. Ke kost tidur, ke cafe makan siang, foto-foto di tempat hits, atau menunggu sore untuk mlipir ke kost pacar demi menghindari kecurigaan warga ketika harus check in tengah malam.

Vangke ingin sekali seperti kawan-kawannya, mahasiswa yang menurutnya luar biasa. Kolom absen terisi penuh, disayang kampus karena tak pernah melawan, memilki banyak follower pada akun sosmed karena caption yang bijak meski tanpa mencantumkan sumber, meski caption yang entah sesuai atau tidak dengan action. Sungguh luar biasa. Bangkenya…

Vangke, ia yang selalu menganggap masyarakat sebagai ruang kuliah sesungguhnya, dan bilik kelas kampus hanyalah ruang leyeh-leyeh dan istirahatnya. Mahasiswa yang otaknya summa cumlaude, namun IPK nya jeblok. Dan, dia yang dianggap penyakit dan tidak berprestasi oleh kampusnya.

Vangke hanya mahasiswa biasa, biasa dalam hal mahasiswa sebagaimana hakekatnya, an sich. Kebingungannya kemana dia akan pulang, sungguh bukan karena tidak memiliki tempat tinggal. Justru karena tidak hanya satu dua tempat yang ingin ia tinggali.

Ia ingin pulang kepada kacang tanah dan padi yang dimonopoli para tirani. Ia ingin pulang kepada blangkon, keris, dan warung rames Bu Yanto yang dibasmi gedung kapitalis. Ia ingin pulang kepada lanskap moral dan norma yang dikebiri monitor 21 inchi. Ia juga ingin pulang menuju rencana perlawanan terhadap ketimpangan oleh penguasa. Ia ingin pulang bersama sahabat-sahabat PMII, HMI, GMNI, GMKI, IMM, FMN, dan kawan-kawan ngaktifis lainnya. Atau siapapun mereka yang rindu dengan kedamaian tanah kandung.

Bung Karno pernah berkata…

Tan Malaka sudah mengajarkan…

Karl Marx…

Sudahlah, Vangke memang bangke. Vangke mau cari pacar dulu seperti kalian. Biar bisa mlipir sore hari agar tidak dicurigai warga ketika harus check in malam hari.

Sun jauh dari Vangke, Vangke Vanget Sartre Castro. Yang ingin pulang, tapi tak punya teman.

Ambil gitarnya, masuk dari C..

…Vangke tersesat dan tak tau arah jalan pulaaang. Vangke tanpamu, butiran debuuu…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here