Sebutan Ustad berasal dari bahasa arab yang berarti Guru atau pengajar, seseorang yang mempunyai kedalaman Ilmu dan bisa dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tahukah anda ada istilah baru yaitu Ustad Temporer?

Ustad saat ini menjadi istilah yang lazim disematkan untuk seorang Da’i atau mubaligh dalam beberapa dekade terakhir tepatnya saat negara api menyerang hati dan pikiran kita melalui celah-celah media sosial tanah air.

Maraknya muda mudi anak bangsa yang dikatakan generasi milenial menjadi pemicu bermunculannya Ustad-Ustad Temporer yang baru saja berhijrah dan langsung menjadi mubaligh di forum-forum kajian dan forum dunia maya pada khususnya. Ustad menjadi profesi yang menjamur seolah dengan mudahnya menjadi ustad cukup dengan belajar di google dan merekam aksi ceramahnya di youtube atau Instagram dan jeng jeng….. seketika itulah banyak yang memanggilmu ustad.

Tanpa keilmuan yang cukup mereka menjadi ustad yang mudah ditelan bumi hilang-datang silih berganti, tak dijemput dan apalagi diantar. Hanya dengan kontroversi mereka bisa melambung tinggi jauh diawan… dengan ilmu tafsir serampangan mereka menafsiri  ayat-ayat Tuhan yang suci bahkan ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammmad dulunya sesat wkwkwkw namanya langsung melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi. Penghasilan mereka pun menjulang tinggi sesuai travik akun medsos mereka hanya dalam waktu sekejap mata.

ada pula ustad yang keseharianya adalah nyinyir pada pemerintah, berusaha menebarkan kebencian demi kebencian padahal ajaran agama adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Ketika ditegur berkata “saya di zolimi” owalah rika waras? mendulang travik akun medsos dengan konten kontroversial padahal dibelakang itu kau jualan Kaos ganti presiden.

Salimun santri yang puluhan tahun-pun tak kuasa menahan tawa dan getir, santri yang sudah mondok bahkan 19 tahun di pondok pesantren salaf yang paham betul ilmu agama tak pernah di pandang sebagai ustad karena mereka cenderung menunduk dan menjadi pentolan di kampung terpencil dengan penghasilan seadanya mengabdi pada kampungnya dan lepas dari dunia maya. Bahkan dibeberapa daerah yang notabenenya kental pada atmosfir keagamaan mondok selama apapun kalau kamu belum tua jangankan jadi ustad, jadi imam masjid saja mengantri dengan yang lebih tua. 

Begitulah adab yang dibangun bertahun-tahun dipondok pesantren dengan tirakat-tirakat ala santri yang nyeleneh dan penuh dengan perjuangan. Jangankan menganggap orang lain sesat, kyai nya datang saja mereka merunduk dan merendahkan posisi berdiri karena lagi-lagi adab yang lebih diutamakan dalam dunia pesantren. Jadi, nggak ada santri yang mondok lama kemudian suka nyinyirin presiden apalagi demo ganti presiden didepan warung martabak pula, pasti itu bukan jebolan pesantren.

Apa boleh dikata nasi sudah menjadi kerak intip goreng. Ustad instan menjamur seantero negeri yang majemuk ini dan mencoba berjualan dalil dan ayat baik di dunia maya maupun di dunia yang sesungguhnya. Menjadikan pola pikir masyarakat ngidul-ngalor tak jelas pangkal dan ujungnya. Bahkan kasus ibu-ibu yang dituntut 18 bulan penjara hanya karena menegur pengurus masjid yang pengeras suaranya terlalu keras dengan pasal penistaan agama. Orang menjadi sensitif seperti pantat bayi yang tidak boleh tersentuh apapun seolah jika tersentuh maka akan langsung meletus balon hijau dor!

Sepeninggal para mubaligh yang sudah tersohor kedalaman ilmunya bangsa ini gagap mencari pengganti panutanya dalam ajaran agama dan seiring berjalanya waktu ustad temporer pun berlalu berganti Ulama baru hanya dengan menjadi calon wakil presiden! Salam edan-edanan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here