Home / Juguran / Untuk Urusan Dapur, Adek Tidak Suka yang Instan
blogsangpemenang.blogspot.com

Untuk Urusan Dapur, Adek Tidak Suka yang Instan

Saya belajar memasak sejak kelas 4 SD. Makanan yang pertamakali saya masak yaitu nasi goreng. Sorry, bukan mie instan loh yah. Kenapa? Karena mie instan pada saat itu tergolong mahal. Saya hanya sesekali saja makan mie instan, kalau lagi sakit.

Entah ya, di keluarga saya kalau sakit makannya mie instan, makanan elit pada zamannya menurut versi keluarga saya loh. Saya ingat betul saat memasak nasi goreng, asal saja memasukkan bumbu. Mumpung tidak ada Ibu dan Bapak di rumah, mulailah saya bereksperimen memasak nasi goreng. Masaknya pakai tungku, bukan kompor. Kalau zaman sekarang, makanan yang dimasak di atas tungku katanya punya citarasa tersendiri, khas. Zaman dulu biasa-biasa saja. Yang luar biasa itu masak pakai kompor sumbu. Sekarang kebalikannya, orang-orang suka nyari sesuatu yang kuno, unik, salah satunya ya itu, makanan yang dimasak di atas tungku.

Nasi goreng pertama saya gosong, karena saya tidak bisa mengatur besar kecilnya api. Susah juga ternyata menjaga api di tungku agar tetap stabil, sama halnya menjaga api cintaku agar tidak membakarmu. Eak.

Mau tidak mau saya menyantap nasi goreng gosong itu sambil melet-melet karena rasanya entah menjurus ke arah mata angin mana. Nasi goreng tidak saya habiskan dan lupa tidak dibuang. Ibu memergokinya dan dicicipi.

Ternyata, menurut penjelasan Ibu, saya memasukkan kemiri, ketumbar, kencur, dan kunyit ke dalam bumbu nasi goreng. Saat duduk di kelas 5 SD dan mengikuti lomba Pramuka Siaga, saya jadi hafal nama-nama bumbu dapur dan manfaatnya bagi kesehatan. Bahkan hanya dengan mencium baunya saya sudah tahu nama dan manfaarnya.

Sejak saat itu saya suka memasak. Bagi saya, memasak mempunyai seni tersendiri. Setiap tangan juga mempunyai keistimewaan masing-masing, semacam magic. Satu jenis masakan jika dimasak oleh tangan yang berbeda, rasanya beda juga, meskipun bumbunya sama persis.

Ibu bilang, perempuan harus paham bumbu-bumbu dapur, paham resep masakan dan bisa masak pastinya. Hingga saat ini saya percaya itu. Di zaman yang serba instan ini, hmm, satu persatu bumbu dapur dikemas dalam bentuk instan dengan berbagai merek. Jika tadinya memasak sup kita harus menghaluskan kemiri, bawang putih, garam, merica, sekarang cukup dengan satu sachet bumbu instan, semua beres. Tidak hanya sup, bumbu tempe goreng yang gampang dan sederhana saja sudah instan. Belum lagi bumbu bakwan, nasi goreng, rendang, cap cay, dan yang baru saya tahu tadi pagi adalah prekedel instan. Bukan  bumbu prekedel, melainkan mash potatoe yang siap digoreng, tinggal tambahkan sebutir telur saja jika perlu.  Tetangga kos saya menawari untuk mencicipinya.

Sungguh, wanita zaman sekarang serba dipermudah untuk urusan dapur khususnya. Semua serba instan. Saya khawatir, anak-anak saya kelak ketika ditanya bumbu nasi goreng apa, Mbak? Sajiku. Kalau bumbu rendang? Sajiku. Bumbu tempe goreng? Sajiku. Bumbu ayam goreng? Sajiku.

Semua bumbu namanya sama, Bu. Sajiku, duh!

Okelah, bumbu instan memang memudahkan, tapi bagi saya, hmm, feel memasaknya kurang. Mengupas bawang, memotong cabai, mengulek bumbu, bagi saya itulah seksinya perempuan saat menguasai dapur. Kuno? I don’t care. It’s about my opinion.

Jadi, Bang, maaf ya, kalau Adek masaknya agak lama. Semoga kamu sabar menanti dan sabar menikmati, andai kata masakanku masih ngalor ngidul rasanya. Adek Cuma tidak mau Abang dan anak-anak dikasih masakan bumbu instan. Bukankah perjalanan cinta kita juga melalui proses yang sangat panjang? Eak.

About April

Cuaca pasti berubah. Tapi tetaplah menjadi langit yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *