Home / Juguran / Tukang Parkir dan Segala Kebaperan yang Menyertainya
koransn.com

Tukang Parkir dan Segala Kebaperan yang Menyertainya

Bagi kamu yang tinggal di kota-kota besar, sudah menjadi pemandangan yang lazim jika di setiap tempat umum terdapat tukang parkir, mulai dari toko sepatu, toko baju, warung nasi, hingga tukang sol sepatu, semua ada tukang parkirnya. Bahkan nih, aku pernah mampir ke ATM dan ada tukang parkirnya juga.

Terlepas dari keberadaan tukang parkir dimana-mana, mereka terkadang membuatku baper. Terlebih jika sebelumnya ada kejadian yang menyentuh hati, wih, tukang parkir pun aku kait-kaitan dengan perasaan. Entah kamu pernah merasakan hal yang sama atau tidak, dari tukang parkir kita bisa belajar tentang cinta. Loh, serius? Yuhuuuu tjuy. Mari kita telaah “tukang parkir dan kebaperan yang menyertainya”

Pertama, kamu tentu pernah bertemu tukang parkir yang sangat semangat ketika melihatmu datang dan hendak memarkir kendaraan. Mereka melambai-lambaikan tangan kadang ada juga yang sambil tersenyum ramah dengan maksud agar kamu parkir di lahan parkir mereka. Hal ini biasa terjadi di tempat umumyang tukang parkirnya tidak hanya satu, misal nih di acara sunmor (Sunday morning). Kalau di kotaku, sunmor digelar di kompleks GOR. Nah, begitu ada pengendara memasuki kawasan parkir, para tukang parkir akan melambai-lambaikan tangan dan aku harus menentukan pilihan, mau parkir dimana?

Terkadang tjuy, ada masa dimana banyak orang yang mendekati kita, sampai-sampai kita bingung mau pilih yang mana. Ya, kurang lebihnya kayak fenomena parkir. Kita tentu ingin parkir di lokasi yang strategis bukan? Begitu juga hati. Hati harus diparkir di tempat yang strategis, biar apa? Biar kalau mau pergi gampang. Lha, namanya juga parkir, hanya sementara.

Selain strategis, terkadang faktor manusia juga tururt menentukan. Maksudnya? Maksdunya gini, kalau aku pribadi, misal nggak ada tempat strategis yang tersisa, aku akan memilih parkir di tempat yang sekiranya tukang parkirnya ramah dan bertanggungjawab.

Dari mana bisa tahu? Ya dari cara mereka mempersilahkan kita. Melambaikan tangan seraya tersenyum, kemudian mengarahkan “Parkir sini mba, ayo belok, banting kanan sedikit, iya sedikit lagi, oke sip, mantap.” Pokoknya senang deh kalau ada tukang parkir demikian. Ibarat cinta, kedatangan kita disambut dengan baik. Duhelaaaaaa.

Tukang parkir yang demikian, ketika kita hendak pergi pun akan mengarahkan dengan baik. Kadang ada juga yang mengucapkan “hati-hati”. Dalam sebuah hubungan, jika kamu datang dengan baik-baik, menyambut perasaan dengan baik-baik, pergilah dengan cara yang baik-baik juga. Biar apa? Ya biar tidak ada dendam diantara kita. Hasehhhh.

Kedua, jika kamu parkir bukan di tempat semacam sunmor, misalnya parkir di depan apotek yang tukang parkirnya hanya satu, maka hanya dia satu-satunya yang kamu tuju. Kamu nggak perlu memilih mau diparkirin sama tukang parkir yang mana. Mau nggak mau, ya dia yang bakalan markirin kamu. Menyebalkannya, ada tukang parkir yang begitu semangat ketika kita datang kemudian berkata “parkirnya sekalian”. Setelah dibayar dan kita hendak pergi, dia sama sekali nggak markirin tjuy. Kita dilepas begitu sajahhhh. Doi malah duduk atau markirin motor lain yang baru dateng, padahal jalanan sedang ramai.

Dalam kehidupan percintaan, terkadang kita tidak punya pilihan. Adanya hanya dia seorang. Sialnya, ketika dia sudah mendapatkan apa yang dia mau, dia acuhkan kita. Dia melepaskan kita begitu saja kek tukang parkir onoh tadi. Ya memang sih, namanya juga parkir kan pada akhirnya kita yang harus pergi. Tapi kan tapi, sakit juga kalau datang disambut hangat eh pas pergi diacuhkan. Ya kadang, seseorang kalau sudah dapat apa yang dia mau ujung-ujungnya kita dicampakan.

About April

Cuaca pasti berubah. Tapi tetaplah menjadi langit yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *