Saat sedang ngobrol via chating Whatsapp dengan sahabat lama ngalor-ngidul menyoal beberapa hari pasca diumumkannya cawapres pasangan Jokowi membuat seisi rumah gaduh. Ide-ide gila dan keinginan saling tumpang tindih dengan akal sehat yang sudah mulai memudar seiring suara yang keluar dari rumah seolah tahun politik ini sudah gawat dan akan segera menimbulkan perang bharatayuda berjilid-jilid. Tiba-tiba sahabat lama saya nyeletuk, “tahun politik, tahun imajiner” seketika saya langsung ngguyu kepingkel entah kenapa.

Mula-mula sahabatku itu membahas soal acara di sebuah stasiun televisi sebut saja ILC yang baru saja menayangkan seorang mantan kandidat calon wakil Presiden pasangan Jokowi, sebut saja beliau Mahfud MD. Awalnya memang Mahfud sudah yakin betul bahwa dia lah yang dipilih untuk mendampingi Jokowi. Ealah cempulek jebul di detik-detik akhir di overtake oleh KH Ma’ruf Amin. Awalnya Mahfud menyatakan legowo terhadap keputusan itu, dan setelah memberikan statement pada ILC membuat banyak orang goyah dan apriori bahkan muncul sentimen baru pada Mahfud.

Semua Grup WA ramai membicarakan hal tersebut. Perang Opini, adu argumen dan tak jarang pula yang berkelahi via WA hanya karena menonton video siaran ulang ILC. Nah, sahabatku ini lama-lama geram dengan mereka yang semakin buta untuk mendukung salah satu calon sehingga dengan mudah menyalahkan dan menghukumi sesuatu. Politik seolah menghilangkan akal sehat mereka sehingga mereka meninggalkan pola pemikiran yang hati-hati dan mendalam sebagai warga yang moderat.

Sentimen organisasi dan pandangan politik yang berseberangan membuat kerangka berfikir menjadi keropos dan mudah untuk mengambil kesimpuln bahwa yang berbeda dengan opini adalah salah! Edan pa ora!! Disela obrolan yang makin ngawur itu ujug-ujug sahabatku nyeletuk “kebayang nggak kalau tiba-tiba Sandiago Uno terjerat kasus yang 500 M itu dan posisinya digantikan Mahfud MD?” Belum sempat aku balas chat itu dia menimpalinya dengan chat selanjutnya “atau tiba-tiba KH Ma’ruf Amin dinyatakan kurang sehat dan digantikan oleh Mahfud MD karena itu setinganya?”. Masih terpaku oleh chatingan yang makin ngawur itu kemudian dia bilang “Tahun Politik, Tahun Imajiner” sontak aku langsung bilang, “kata katamu dab!” Wkwkwwk

perkataan sahabatku ini menegaskan kekecewaannya pada beberapa pihak yang secara masiv dan ambisius menjadi calon wakil presiden dengan mengorbankan hal besar yang sebetulnya tidak perlu. Harga cawapres tidak semahal menggadaikan NKRI dalam pertempuran maya antar anak bangsa gaes!. Ingatlah, lebih baik kita gotong royong membangun gapura didepan gang rumah kita atau mengecat jalan raya dengan garis putih bertuliskan semangat kemerdekaan dan persatuan!. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur sejak pilpres 2014 dengan kebencian yang terus bersemi dan di pupuk oleh aksi bela-belaan yang berjilid-jilid di monas tempo hari membuat perseteruan untuk mendukung pasangan calon semakin kuat di tambah bumbu berita hoax yang unpredicteble judulnya.

Imajinasi amburadul dan Hilangnya akal sehat

 

Masih terkesan dengan kata-kata sahabatku itu lantas membuat aku jadi mikir bahwa memang benar Tahun politik adalah Tahun Imajiner karena semua bisa terjadi bahkan Tuhan pun diatasnamakan untuk saling menjatuhkan. Grup demi grup WA ramai riuh karena perbedaan pendapat, salah satunya adalah grup keluarga yang ikut membicarakan atau hanya sekedar nge-share foto atau tulisan yang berbau menjatuhkan lawan politik. Seketika akal sehat tumbang seperti orang yang sedang jatuh cinta uyeeee. Mendadak semua menjadi pengamat politik dan berlomba untuk berkomentar dalam setiap keadaan seolah mereka seperti Pengamat politik yang marak bermunculan di televisi.

Sungguh tidak menarik dan memuakan setelah saling berlomba untuk nge-share artikel atau gambar yang menjatuhkan lawan politik pilihan mereka, tak jarang mereka dengan ngeyelnya membela dukungan mereka seolah membela orang suci dari barat serperti Biksu Tong! Bagi pendukung Jokowi semua yang dilakukan oleh Prabowo itu buruk dan jelek begitu pula sebaliknya dikalangan pendukung Prabowo yang tak pernah menghargai karya dan kerja Presiden Jokowi.

Hilangnya rasa empati terhadap orang yang berbeda pilihan membuatku sedikit ngilu, mereka termakan cinta buta, taklid buta, dan pendukung membabi buta. Nalar kritis pun seketika mereka pinggirkan dan yang penting mereka bisa dengan emosi mendukung pasangan calon mereka. Mbok yoa eling, calonmu bukan nabi yang harus kamu bela berjilid-jilid! Tak perlu kita mengorbankan persaudaraan, pergaulan, atau organisasi demi sebuah dukungan pada salah satu calon. Apalagi beramai-ramai mencemooh Mahfud yang gagal nyalon. Jangan tinggalkan akal sehat hanya untuk pemikiran ambisius pada jabatan cawapres! Imajiku semakin kuat untuk berusaha melompat agar tidak melalui tahun 2019, ya kalau nggak balik 2018 lagi atau loncat ke tahun 2020 dihari pernikahan yang aku rencanakan! Pesanku, maju tak gentar membela yang wajar!! Wassalam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here