Home / Juguran / Skripsiku Bertepuk Sebelah Tangan
memegenerator.net

Skripsiku Bertepuk Sebelah Tangan

Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan. Kau buat remuk seluruh hatiku.

Kalian tahu lagu tersebut? Atau bahkan ada yang pernah merasa bahwa kisah cintanya sesuai dengan lirik lagu tersebut?

Hmm, sebuah lagu memang akan terasa sangat menyanyat hati jika isinya sesuai denan kisah kita. Kadang, yang nggak sesuai juga sengaja di pas-pasin supaya match dan menjiwai saat menyanyi.

Saat masa-masa remaja, mungkin cinta bertepuk sebelah tangan merupakan hal yang menyakitkan. Menangis tersedu-sedu, jadi malas ke sekolah karena ada mantan doi, nggak semangat ikut eskul karena gebetannya si doi juga ikut eskul yang sama. Beuh, balada cinta remaja.

Belum lagi drama-drama alay lainnya seperti pura-pura sakit, tiba-tiba nangis di kelas dikira kesurupan, update status panjang lebar di Facebook, dan ya drama versi kalian masing-masing deh. Semakin bertambahnya usia, definisi patah hati mengalami pergeseran signifikan.

Dulu, aku pikir hal yang paling menyakitkan adalah ketika cintaku bertepuk sebelah tangan. Tapi sekarang, di penguhujung umur 21 tahun dan di penghujung semester 8, patah hati paling dalam adalah ketika skripsiku bertepuk sebelah tangan.

Maafkan aku masa lalu, aku sudah tidak punya waktu lagi untuk memikirkanmu. Saat ini hari-hariku dibayang-bayangi oleh sebuah benda mati yang bernama SKRIPSI dan seorang yang bernama dosen pembimbing.

Tidak ada lagi patah hati karenamu, masa lalu. Karena patah hatiku adalah tentang skripsi yang bertepuk sebelah tangan. Di saat aku sedang berjuang, semangat menggebu-gebu, deadline sudah terpampang jelas di tembok kamar, dan taraaaaaa, dosen pembimbing entah kemana rimbanya.

Hari-hari berlalu. Pertemuan dengan dosen pembimbing menjadi hal yang kunantikan lebih dari apapun, termasuk bertemu kamu. Perempuan yang biasanya badmood kalau harus menunggu, kali ini harus jaga mood. Masa PMS yang biasanya jadi emosian, kali ini harus lebih bersabar.

Penantian panjang terbayar, sosok dosen pembimbing muncul di koridor fakultas. Skripsi di dalam tas sudah mendesak-desak ingin keluar. Sabarlah, mari kita sapa dosen pembimbing dengan senyum dan salam.

“Skipsinya ditinggal dulu ya, saya sibuk.”

Hmm, ya aku bisa apa? Dosen memang sibuk, kalau tidak sibuk ya bukan dosen. Dua hari berlalu.

“Mbak, skripsinya malah belum saya baca. Saya sedang sibuk.”

Lagi-lagi, aku bisa apa.

Seminggu berlalu, akhirnya aku bisa duduk berdua berhadapan dengan dosen pembimbing. Menyaksikan beliau membolak-balik halaman demi halaman skripsiku. Rasanya sangat romantis ketimbang dinner bareng kamu. Eh, romantis plus deg-degan, ding.

Dengan tingkat percaya diri yang lumayan oke, aku berharap kali ini kita satu pemikiran. Nyatanya, jalan pikiran kita memang berbeda. Aku selalu salah di matamu. Ya, aku tahu semua masukan yang diberikan adalah baik, tapi, tapi, bisakah sebentar saja mendengarkan isi hati dan pikiranku tentang penelitian yang sudah kurancang dan kulakukan selama ini?

Barangkali, ada satu hal yang benar di matamu. Satu hal saja, dan kupastikan aku akan sangat bahagia. Hmm, Pak. Aku tidak ingin berakhir karena jalan kita berbeda, seperti yang dikatakan mantanku saat meminta putus, “Kita udah nggak bisa sama-sama, jalan kita udah beda.”

Sungguh, Pak. Aku tidak ingin demikian. Pun aku tidak ingin menyerah walaupun skripsiku bertepuk sebelah tangan. Biarlah semua aku jalani sesuai keinginan Anda. Anda memintaku untuk revisi, akan aku lakukan. Tapi, Pak, hehe, Bapak ya jangan menghilang lagi untuk dicari. Berjuang tidak sebercanda itu, Pak. Kalau aku nggak lulus tepat waktu, apa kabar akreditasi prodi, Pak? Ya aku sih cuma bertanya. Hehe.

About April

Cuaca pasti berubah. Tapi tetaplah menjadi langit yang sama.

Check Also

Mau Kuliah di Bekasi? Berikut 7 Perguruan Tinggi yang Bisa Kamu Pilih

Tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kendalanya bermacam-macam, mulai dari tidak ada kemauan, tidak …

Daftar Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Surabaya

Siapa sih yang tidak ingin kuliah di perguruan tinggi negeri? Umumnya, perguruan tinggi negeri memang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *