Halo, sudah piknik di bulan Ramadan belum? Waktunya aku lanjutin travel story yang kemarin yak. Kalau yang belum baca travel story di postingan sebelumnya, baca dulu yak. Soalnya, tulisan ini merupakan kelanjutan dari cerita tersebut.

Seperti yang kubilang, aku, Om, dan Aa melanjutkan perjalanan ke Purbalingga. Sebelum meninggalkan pada rumput di Baturraden, kita sempat berunding mengenai tempat wisata yang akan dituju. Berhubung hapeku nggak ada sinyal dan hape Aa lagi sedang dalam usaha pengieitan baterai (mode pesawat), so, kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan terlebih dahulu sambil mencari sinyal di tempat yang agak kota.

Memasuki Kabupaten Purbalingga, kita berhenti di depan Sanggaluri, bukan untuk berwisata melihat aneka reptil, tapi memang numpang berhenti doang. Kebetulan sepi juga. Sambil meregangkan kaki, aku membuka instagram dan mengakses akun @wisata_purbalingga untuk melihat referensi tempat wisata. Banyak banget cuy. Sampai bingung pilih yang mana.

Menyebalkannya, si Om dan Aa menyerahkan sepenuhnya pilihan tempat wisata ke aku. Seolah aku yang paling tahu, hmmm, jadi kayak tour guide gitu. Sekitar 15 terombang-ambing dalam kebingungan, akhirnya, pilihan jatuh ke Bukit Mertelu. Kenapa aku memilih bukit tersebut? Karena di fotonya ada cowo sarungan lagi naik ayunan di atas bukit, ya mirip kayak di Lembang Bandung gitu. Udah lama penasaran sama sensasinya main ayunan di atas bukit. Selain itu, di captionya tertulis:

Ke bukit ini Cuma bayar 5k, parkir 2k. Jalan 15-20 menit.

Emh, murah dan nggak butuh waktu lama untuk sampai ke puncak bukit. Setelah sepakat, kita kembali melanjutkan perjalananan. Beruntungnya, cuaca siang itu sangat bersahabata, panas engga, hujan juga engga, pokoknya mendung syahdu deh. Cocok, jadi nggak terlalu haus, eh.

Berhubung jam hampir memasuki waktu salat dzuhur, kita melaju sambil mencari masjid. Emh, aku lupa sih namanya masjid tempat kita salat apaan, padahal dalam hari udah niat mau kufoto. Intinya masjid yak.

Ada sesuatu yang bikin aku kagum, jama’ahnya banyak cuy walaupun itu salat dzuhur. Mulai dari anak-anak sampai orang tua. Entah itu karena saat ini bulan Ramadan atau memang sehari-harinya juga begitu, husnudzonku sih, semoga memang kesehariannya begitu. Jama’ahnya juga ramah-ramah. Mereka paham kalau aku bukan orang asli situ. Salah satu dari mereka, bertanya ke aku dari mana asalnya dan mau kemana.

Komentarnya, “Lagi puasa kok jalan-jalan, Mba.”

Aku hanya tersenyum simpul. Selepas salat jama’ah, kita cus meluncur menuju ke desa Serang. Berhubung aku udah berkali-kali ke desa wisata tersebut, jadi, sudah paham arahnya. Hanya saja, untuk lokasi Bukit Mertelu memang sama sekali nggak paham. Soalnya, di desa Serang banyak banget tempat wisatanya. Ya, namanya juga desa wisata.

Dengan sangat percaya diri, kita melaju tanpa bantuan Google Map, padahal nggak tahu lokasi pastinya Bukit Mertelu, intinya di Serang. Akses jalan menuju Serang mudah dilalui karena jalannya halus, kalaupun ada yang lubang ya bisa dihitung dan nggak terlalu berbahaya. Memasuki Serang, udara dingin mulai menelusup ke tulang belulang. Parahnya, aku nggk pakai jaket sama sekali.Cuma pakai kaos lengan panjang saja. Tapi, okelah, dari pada kepanasan mending kedinginan.

Lagi-lagi, si Aa kegirangan merasakan udara sejuk dan pemandangan hijau yang asri khas daerah pegunungan. Semakin ke atas, udara semakin dingin dan pemandangan berganti menjadi hamparan kebun stroberi. Sayangnya, sedang bukan musim strawberry. Padahal, dulu aku sempat ke kebun stroberi bareng doi dan kawan-kawan ketika musimnya, wuihhh, merah menggoda sampai bingung mau memetik yang mana.

Semakin ke atas lagi, aku jadi bertanya-tanya, mana Bukit Mertelunya? Soalnya, sepanjang perjalanan sejak memasuki desa Serang, aku sama sekali nggak lihat ada papan bertuliskan Bukit Mertelu.

Merasa ragu, aku meminta Aa menghentikan sepeda motor, diikuti oleh Om. Aku mengambil hape dari dalam tas, niatnya mau buka google map. Dan, taraaaa, sama sekali nggak ada sinyal. Lebih parahnya lagi, ketika itu aku lupa apa nama bukitnya (jangan tanya aku pakai kartu apa). Mau tidak mau, hape Aa yang sedang dalam usaha pengiritan baterai, harus dinyalakan datanya untuk bisa mengakses instragam guna melihat nama bukit yang kita maksud.

Sempat menunggu beberapa saat hingga sinyal muncul, akhirnya instragram bisa diakses dan kita mendapatkan nama bukit yang dimaksud, yakni Bukit Mertelu. Langsung deh kita ketik di google map. Kata google map sih 14 menit menuju ke Bukit Mertelu dan arahnya berbalik. Artinya, lokasi bukit tersebut sudah terlewat. Ngeselin nggak sih?

Ternyata tuh lokasinya nggak sampai setinggi kawasan yang udah kita capai. Untuk mamastikan goole map nggak salah alamat, si Aa bertanya ke seorang bapak-bapak yang sedang lewat membawa cangkul. Bapak tersebut membenarkan bahwa memang lokasi Bukit Mertelu sudah terlewat.

Okelah, kita meluncur ke bawah lagi. Setengah perjalanan, si Aa menepi dan bertanya kepada seorang perempuan yang sedang berjalan membawa popok bayi. Mbak tersebut memberi pengarahan, intinya lokasi Bukit Mertelu masuk ke gang yang ada gapuranya di kiri jalan. Setelah berterimakasih, kita tancap gas mencari patokan berupa gapura di kiri jalan. Dan, akhirnya, ketemu juga cuy. Heran, kenapa tadi nggak lihat tulisannya padahal mata sudah empat loh ketembahkan lensa dua.

Dari gang tersebut, sekitar 2 menit kita sampai di pintu masuk Bukit Mertelu. Seperti saat di Wana Wisata Baturraden, di lokasi ini juga sepi pengunjung. Hanya ada dua sepeda motor di tempat parkir.

Sesuai yang tertera di akun instragram @wisata_purbalingga, tiket masuk ke bukit ini yakni Rp. 5.000 per orang dan Rp. 2.000 per sepeda motor untuk biaya parkir. Terjangkau banget sih dibanding tempat yang kita kunjungi sebelumnya. Di tempat parkir, kita bertiga seolah serentak menghela napas, antara kesal dan lega karena memang lokasinya masih termasuk kawasan bawah. Hmmmm.

Dokumen Pribadi: Tiket masuk dan karcis parkir.

 

Masih di tempat parkir, si Om tengak-tengok seperti mencari-cari seuatu dan dapat. Dia menunjuk ke arah puncak bukit.

“Itu puncaknya?”

Aku dan Aa menoleh bersamaan. Busyet! Tinggi juga ternyata. Aku nggak jamin kuat sampai puncak. Terlebih sedang puasa. Hehe. Alibi nggak sih? Banget lah, puasa itu kan menyehatkan, bukan melemahkan. Tapi memang kalaupun nggak lagi puasa juga aku pasti capek manjat-manjat, nggak biasa soalnya. Amatiran.

Sebelum memulai pendakian ke bukit Mertelu, si Aa minta difoto di tulisan Bukit Mertelu yang terletak di dekat lokasi parkir. Nih fotonya.

Dokumen Pribadi

 

Ketika kita mulai mendaki, cuaca masih mendung syantik dan tergolong aman. Track pertama kita berupa bebatuan yang disusun rapih sepanjang kurang lebih 10 meter. Sampai track pertama habis, aku masih stay cool. Track berganti menjadi tanah gembur yang empuk kalau diinjak, tapi jadi berat juga di kaki. Hebatnya, setelah track bebatuan, kita menjumpai sebuah musholla lengkap dengan dua buah kamar mandi yang juga bisa dijadikan sebagai tempat wudlu. Salut deh sama tempat wsiata yang satu ini. Nggak Cuma itu, tersedia juga sarung, sajadah dan mukena.

Setelah melewati musholla, aku mulai merasa lelah dan keringat bercucuran, padahal udaranya dingin. Ya begitulah, aku memang mudah berkeringat. Tapi tenang, ada Rexona yang setia setiap saat, so, apapun aktivitasku, tetap nyaman dan percaya dari (ini bukan endorse). Aku meminta untuk berhenti sejenak, mengatur napas yang tersengal. Sekitar 2 menit berhenti, kami melanjutkan perjalanan lagi, masih dengan track berupa tanah gembur hanya saja lebih menanjak.

Baru berjalan beberapa meter, aku meminta untuk berhenti lagi. Dan, saat ketiga kalinya aku meminta berhenti, aku sempat memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan dan meminta mereka berdua meninggalkanku di sebuah tempat duduk di bawah pohon.

Si Aa dan Om menolak. Pokoknya harus sampai di puncak bukit bareng-bareng. Kali ini aku membutuhkan waktu sekitar 3 menit untuk beristirahat. Dirasa cukup, kita kembali menyusuri track berupa jalan setapak dari tanah yang lebih padat serta lebih menanjak.

Lagi-lagi, belum lama berjalan aku minta berhenti lagi. Kali ini, aku beristirahat di ayunan. Lumayan, mengenang masa kanak-kanak. Dari tempat ayunan tersebut, aku masih terus meminta berhenti beberapa kali. Duh, sabar banget pokonya dah si Aa sama Om.

Nah, ini ada foto waktu aku berhenti di beberapa titik.

Dokumen Pribadi

 

Dokumen Pribadi: Dibalik foto ini ada muka aku yang cengo akibat susah payah mengatur napas dan menahan dingin.

 

Dokumen Pribadi: Fokus ke pamandangan di belajang aja gaes.

 

Dokumen Pribadi

 

Dokumen Pribadi

 

Setelah berkali-kali berhenti dan sempat menyerah, akhirnya kita sampai di puncak bukit Mertelu. Lelah kita terbayar cuy, eh lelahku. Mereka bedua nggak lelah katanya. Fyuhh. Sebagai salah satu bentuk kegembiraan, si Aa berteriak memanggil “Emakk!”

Aku juga ikutan. Teriakan hati seorang mahasiswa semseter akhir adalah, “Woy, kapan wisuda sih ini? Pak dosbing, acc skripsiku dong!”

Kalau si Om, “Subhanallah.”

Good boy. Niatnya aku ingin naik ayunan di atas bukit. Tapi berhubung nggak ada penjaganya, aku nggak berani. Takut jatuh. Keselamatan lebih utama ketimbang foto keren. Berikut ini foto-foto yang kita ambil saat di puncak bukit Mertelu.

Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi

 

Dokumen Pribadi

 

Dokumen Pribadi

 

Dokumen Pribadi

Sayangnya, belum lama menikmati keindahan Purbalingga dari ketinggian, eh gerimis mengundang. Hmmmm. Sebagai pengunjung yang taat himbauan, kita segera turun sebelum gerimis menjelma hujan, dan rindu semakin randu. Ealahhhhh. Meskipun Cuma sebentar di puncak bukit Mertelu, tapi aku puas dan bersyukur bisa sampai di puncaknya meskipun dalam keadaan berpuasa. Next time, semoga bisa travelling lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here