Home / Juguran / Bangsa & Agama / Semangat Kebangsaan Mewarnai Perayaan Maulid Nabi Saw dan Khotmil Qur’an wal Kutub Pesma An Najah Purwokerto

Semangat Kebangsaan Mewarnai Perayaan Maulid Nabi Saw dan Khotmil Qur’an wal Kutub Pesma An Najah Purwokerto

(Santri Pesma An Najah Purwokerto saat khataman Kitab 'Imrithi, 16/12/2017)
(Dr.KH.Mohammad Roqib, M.Ag saat memberikan sambutam, 16/12/2017)
(Dr.KH.Mohammad Roqib, M.Ag saat memberikan sambutam, 16/12/2017)

AnNajahNews, Purwokerto – Hujan yang mengguyur Desa Kutasari tidak menyurutkan semangat santri Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto untuk melangkahkan kakinya menuju panggung Khotmil Qur’an wal Kutub di Masjid Baitul Mu’min Semingkir, Sabtu (16/12). Khataman yang digandeng dengan Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw tersebut diikuti oleh kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 Madrasah Diniyyah Pesma An Najah, yakni Khataman Binadri, Juz ‘Ama, Kitab Alala, dan Kitab ‘Imrithi.

Acara tersebut dihadiri oleh Drs. KH. Taefur Arafat selaku Ketua PWNU Jawa Tengah yang sekaligus menjadi penceramah utama, Dr. KH. Mohammad Roqib, M. Ag selaku pengasuh Pesma An Najah, KH. Zainnurrohman selaku pengasuh Pondok Pesantren Bani Rasul yang didapuk untuk memberikan doa penutup khataman, Kepala Desa Kutasari beserta perangkatnya, Takmir Masjid Baitul Mu’min, ustadz dan ustadzah Madin Pesma An Najah, para wali santri, Banser, Ansor, Fatayat NU dan segenap warga Desa Kutasari.

Arif Faozi selaku Ketua Panitia, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara Pesma An Najah dengan Takmir Masjid Baitul Mu’min berserta warga Semingkir. Arif menyampaikan bagaimana pentingnya kebersamaan umat manusia yakni harus menghasilkan sesuatu yang baik. Maka atas terealisasinya kegiatan tersebut merupakan buah dari kerjasama semua elemen yang terlibat, dan diharapkan ada kebaikan yang dipetik.

Semangat kebangsaan juga mewarnai acara tersebut. Dengan dinyayikannya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Ya Lal Wathan, dan Mars Banser di awal acara, mengukuhkan rasa cinta terhadap NKRI. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bpk. Suwarno dalam sambutannya, “di Desa Kutasari ini patut dibanggakan karena Bansernya paling banyak se-Kecamatan Baturraden. Maka dari itu orangtua agar memberi semangat dan dukungan kepada putra-putrinya untuk masuk Ansor dan Fatayat, insyaallah akan mendapatkan kegiatan yang positif dan melahirkan calon-calon penerus ulama”.

(Santri Pesma An Najah Purwokerto saat khataman Kitab 'Imrithi, 16/12/2017)
(Santri Pesma An Najah Purwokerto saat khataman Kitab ‘Imrithi, 16/12/2017)

Dr. KH. Mohammad Roqib, M. Ag, dalam sambutannya, mengucapkan selamat kepada santri yang telah melakukan prosesi khataman, dan masih ada proses-proses lainnya yang menunggu untuk dilalaui. Prestasi tersebut harus disyukuri untuk menjadikan diri kita lebih bersemangat.

Beliau mengajak santri untuk lebih semangat belajar, tidak ragu-ragu ketika di pondok, istiqomah mengaji, taat kepada Kyai. Hal demikian adalah syarat untuk mendapat ilmu yang barokah, dan menjadi kebanggaan keluarga, masyarakat, serta nusa dan bangsa. “Kawan-kawan Banser juga luar biasa. Semangat tersebut patut didukung dan dicontoh bagaimana pengabdiannya dilakukan untuk membantu ‘alim ‘ulama. Khidmat adalah prestasi yang luar biasa, dan disitulah keistimewaannya”. Lanjutnya.

Setelah acara pembukaan selesai, dilanjutkan dengan mau’idloh khasanah oleh Drs. KH Taefur Arafat. Beliau menyampaikan terkait bagaimana menjalin kebersamaan dalam bermasyarakat dan membangun kehidupan yang aman, tentram dan damai, tidak ada perselisihan. Beliau mengatakan, “Manusia itu gampang berselisih, malah bisa ngawiti perselisihan katone bangga banget. Padahal itu awal dari kelemahan kita. Perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan, mergane anu kurang ilmune”. Maka dari itu beliau menyatakan bahwa pendidikan di pesantren merupakan proses pembekalan ilmu yang menjadikan bekal di masa yang akan datang. Jika bangsa Indonesia semakin banyak ilmunya maka Indonesia akan menjadi lebih baik lagi masyarakatnya.

Terkait dengan Perayaan Maulid Nabi ini, beliau mengajak untuk menggunakan momen maulid ini sebagai bahan instropeksi diri, refleksi diri, metani awake dewek, kira-kira kita mengikuti Kanjeng Nabi sudah berapa persen. Selain itu sebagai wasilah untuk melahirkan rasa mahabah kepada Allah Swt. Diakhir ceramah, beliau menghimbau agar senantiasa melakukan kegiatan yang positif. “Indonesia aman, selagi NU Jalan”, pungkasnya. (Iis Sugiarti)

 

 

 

 

About Iis Sugiarti

Karena hidup hanya sekali, Maka berkaryalah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *