Home / Juguran / Sudah Produktifkah Kita?
Bahagia dalam produktifitas via www.jamilazzaini.com

Sudah Produktifkah Kita?

Di tulisan kali ini, aku bakalan share tentang anak muda jaman now. Kita, anak muda, hidup pada zaman Z, dimana udah banyak banget teknologi canggih yang bertebaran di muka bumi. Di satu sisi, kemajuan teknologi emang memberikan dampak yang positif, salah satunya mempermudah akses informasi.

Tapi di sisi lain juga berdampak negatif, khususnya untuk kawula muda kayak kita, aset bangsa yang katanya bakalan jadi generasi penerus. Dampak negatifnya dimana? Teknologi memicu pemuda untuk bermalas-malas ria. Contohnya: lebih milih main game ketimbang ngerjain tugas. Giliran udah deket deadline lembur semalaman, nyuri hak badan buat istirahat.

Lebih suka haha-hihi di group rumpi whatsapp ketimbang belajar. Tapi main game kan penting, masa iya hidup mau baca buku terus? Oke, bolehlah main game asalkan bukan dijadikan sebagai kebutuhan primer, hiburan sesaat aja. Tapi haha-hihi di grup rumpi whatsaapp juga penting, daripada nungguin chat doi nggak di bales-bales. Oke, sah-sah aja si.

Sekarang coba kita pikirin bareng-bareng, tugas udah kelar belum? Kerjaan udah kelar belum? Ada nggak hal lain yang manfaatnya lebih besar ketimbang ngegame atau rumpi? Selama ini waktu kita sia-sia nggak ya? Mungkin kita bakalan jawab, nggak ada sesuatu yang sia-sia. Jadi, pertanyaannya aku ganti, selama ini waktu kita digunakan untuk hal-hal yang produktif nggak ya?

Produktif, mungkin kita lebih sering memaknainya dengan “menghasilkan uang”. Pemuda yang produktif berarti yang bisa menghasilkan uang dari jerih payahnya sendiri, misalnya dengan cara kerja sambilan di toko, jadi freelance, jualan pulsa, buka olshop, atau lainnya. Sah-sah aja sih kalau produktif dimaknai kayak gitu.

Emh, tapi apa iya ya makna produktif sesempit itu? Kalau produktif kita maknai sebagai “menghasilkan uang” semata, jangan-jangan selama ini kita terjebak di dalamnya dengan beralibi: kan aku masih sekolah, kan aku masih mahasiswa, kan aku baru lulus kuliah, wajarlah belum bisa produktif. Alhasil, kita jadi pemuda yang bisanya cuma pasrah dengan status dan keadaan kita.

So, produktif itu yang kayak gimana sih? Menurutku, produktif itu menggunakan waktu untuk melakukan sesuatu yang lebih besar manfaatnya ketimbang kerugiannya. Nah, muncul lagi pertanyaan, ukuran kebermanfaatkan itu seberapa atau seperti apa sih? Kalau pertanyaan ini yang bisa jawab cuma diri kita sendiri.

Setelah melakukan sesuatu, coba renungkan manfaatnya apa ya buat kita? Ruginya apa ya? Lebih besar mana, manfaatnya atau kerugiannya? Yang bisa mengukur keduanya ya diri kita sendiri. Misalnya setelah main game berjam-jam, kita timbang aja antara manfaat dan kerugiannya. Jangan pake timbangan bayi yang di posyandu ya. Jangan juga pake timbangn badan atau timbangan barang.

Pakainya timbangan “hati”. Dih, dalem nih. Biasanya kalau ngebahas hati jadi sensitif. Timbangan hati, emh, abstrak ya? Maksudnya kita tanya ke hati nurani yang paling dalam. Si nurani pasti tau mana yang lebih banyak antara kerugian dan manfaat dari hal yang kita lakuin. Kalau nurani nggak bisa jawab, tanya aja ke Nuraini, teman kelasku. Dia bisa ngeramal loh. Hehe.

Oke, udahan usilnya. Sekarang fokus lagi. Yuk, bareng-bareng jadi pemuda yang produktif. Kalau belum bisa produktif dalam artian mengasilkan uang, ya produktif dalam menggunakan waktu. Gunakan waktu sebaik-baiknya, mulai dari hal kecil, misalnya baca buku di sela-sela pergantian jam kuliah.

Kalau baca tulisan ini di sela-sela kegiatan kalian, termasuk produktif nggak yah? Monggo dijawab di dalam hati aja, tulis di kolom komentar juga boleh. Kalau nih pahit-pahitnya tulisan ini nggak berguna buat kalian, nantikan tulisan berikutnya ya, barangkali yang akan datang bakalan bermanfaat.

About April

Cuaca pasti berubah. Tapi tetaplah menjadi langit yang sama.

Check Also

Seputar Program Studi Agribisnis dan Prospek Kerjanya

Kamu sudah tahu kan kalau sejak zaman dahulu Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian …

Seputar Jurusan Hubungan Internasional dan Prospek Kerjanya

Apakah kamu bercita-cita menjadi duta besar atau diplomat? Jika iya, jurusan Hubungan Internasional tepat untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *