Sarjana adalah salah satu status sosial yang dianggap begitu potensial bagi sebagian masyarakat. Khususnya masyarakat yang dimana lingkungannya masih sedikit para terdidik. Disana sarjana masih dianggap sebagai superhero yang bisa segala macam keterampilan, dan merupakan orang yang memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Status ini lah yang kadangkala menjadi momok tersendiri bagi pelakunya, yaitu mereka para sarjana.

Sebenarnya, apa yang dimaksud sarjana sendiri memang seperti apa yang disangkakan masyarakat itu, namun seringkali diputarbalikkan oleh para sarjana itu sendiri. Mereka yang berhasil meraih gelar tersebut membuat sangkalan bahwa mereka bukan dewa dan apa yang menjadi tuduhan oleh masyarakat adalah sebuah mitos belaka. Mitos bahwa sarjana adalah orang yang bisa melakukan segala hal. Itulah mereka, sarjana karbitan.

Saat ini, dan bahkan sudah lama terjadi, banyak sekali sarjana yang hidupnya luntang-lantung sana-sini. Setelah lulus dan meninggalkan kampus biasanya pilihannya cuma dua, kalau tidak kerja yaa sekolah lagi, meneruskan ke sarjana tingkat dua, atau pasca sarjana. Masih beruntung jika masih dapat sekolah lagi, setidaknya mereka masih punya waktu untuk mengungkapkan alasan ketidakberdayaannya hidup berdampingan dengan masyarakat. Nah, yang jadi masalah adalah mereka yang diberi pilihan paksa untuk bekerja, mereka harus berjuang bersama-sama lulusan smk untuk dapat masuk di dunia kerja.

Pertanyaannya adalah

Apakah Sarjana Diciptakan Untuk Bekerja?

Tentu jawabannya adalah tidak, para terdidik ini tidaklah diluluskan untuk bekerja. Kenapa demikian? Karena mereka berilmu. Sejak awal diperkenalkan ke dalam dunia kampus, semuanya pasti akan sepakat bahwa mahasiswa dididik untuk berinovasi. Mereka tidak diajarkan untuk mengikuti satu aturan baku yang ada dalam dunia keilmuan dan mengikutinya seperti kerbau dicocok tali. Mahasiswa tidak demikian adanya. Justru mereka dituntut untuk mengubah tatanan yang ada yang dianggap sudah usang. Mahasiswa dididik untuk berinovasi.

Baca jugaBuat apa kuliah? Buang-buang waktu saja

Contoh kecil adalah bagaimana dalam perkuliahan selalu diadakan sesi diskusi. Disitu mahasiswa diberi kesempatan untuk dapat mengeluarkan pendapatnya dan memberikan masukan kepada apa yang dianggapnya kurang tepat. Disitulah ilmu mereka diterapkan dan inovasi mereka diuji ditingkat dasar. Tentu inilah salah satu ajang untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya.

Namun akan berbeda ceritanya jika mahasiswa yang dimaksud adalah mahasiswa karbitan. Seperti yang sudah disinggung di awal, ketika sudah harus terjun ke alam bebasnya di lingkungan masyarakat, dan jika mereka mereka merasa tidak mampu berbuat apa-apa bagi masyarakat, yang akan dilakukan adalah mengkambing hitamkan masyarakat disekitarnya. Sungguh ironis.

Lalu pertanyaan yang muncul kemudian adalah, siapa yang salah?

Tentu dan pasti tidak akan ada yang mau disalahkan. Menyebut pemerintah, mereka akan berdalih bahwa semuanya sudah difasilitasi, hanya masyarakatnya saja yang tidak mau berusaha. Atau mau menyebut mahasiswanya, tentu mereka akan melempar balik kepada pemerintah, bahwasannya pemerintah belum mampu mengakomodir inovasi mahasiswa. Dan ya sudahlah, lagi-lagi kita tidak bisa menyalahkan siapapun.

Pada intinya, setelah lulus nanti, dan mendapat gelar sarjana yang harus diingat adalah bahwa mahasiswa dilahirkan bukan untuk bekerja apa lagi menjadi buruh, tapi mahasiswa dilahirkan untuk menjadi orang yang dapat merubah keusangan menjadi revolusioner yang dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat dan negara.

2 KOMENTAR

  1. kalau menurut saya sich mas….mau sarjana atau bukan tetaplah seseorang itu berusaha bekerja untuk menyerap banyak pekerja.

    Contoh kecilnya adalah menjadi pengusaha, pengusahakan belum tentu tamatan Sarjana ,,tapi sudah tentu menyerap banyak pekerja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here