Cobalah tengok masa kanak-kanak kita dimana lebaran menjadi momen yang sangat dinanti-nantikan. Bahkan, bukan hanya oleh kita. Emak kita juga turut dibuat repot. Emak mempersiapkan baju dengan kantong yang banyak, kalaupun tidak banyak yang penting ada kantongnya dan cukup besar. Kantong tersebut merupakan bakal tempat menyimpan uang. Tidak hanya Emak, kakak-kakak yang sudah ‘tidak layak diberi uang’ juga ikutan repot, repot membujuk agar diberi persenan oleh adik. Kamu termasuk yang dibujuk atau membujuk?

Kalau aku yang dibujuk dan kakakku ada lima, cyiiin. Ketika masih kanak-kanak, aku sangat riang gembira setiap kali bersilaturahmi dari rumah ke rumah. Dengan wajah imut dan menggemaskan, aku menyalami satu per satu tangan, ada yang lembut ada yang kasar. Dalam satu kali jabat tangan, aku bisa mendapatkan uang Rp. 2.000 hingga Rp. 10.000. Oh iya, aku lahiran tahun 1996. Jadi, nominal uang sekian ketika aku masih kanak-kanak merupakan jumlah yang tjesss banget. Uang-uang tersebut ada yang dimasukkan ke dalam amplop putih, amplop merah, dan ada juga yang tanpa amplop. Meski kemasannya berbeda-beda, tapi kesemuanya merupakan uang baru, masih mulus. Aku saja sampai marah ke Ibu kalau uangku jadi lecek. Prinsipku, jangan melipat uang lebih dari satu lipatan. Heahhhh. Anak kecil saja sudah berprinsip. Semoga prinsip tersebut membuatku tidak gemar melipat uang, terlebih uang rakyat dan uang lainnya yang bukan hakku. Amit-amit jabang kebo.

Seiring dengan bertambahnya usia, keimutanku semakin pudar dan sudah tidak lagi menggemaskan. Aku menyandang gelar ‘tidak layak diberi uang’. Sejak saat itu, aku tidak terlalu antusias menyambut hari raya Idul Fitri. Kira-kira hal tersebut begitu terasa menyebalkan ketika aku masuk SMP. Tahun pertama menjadi anak SMP, masih lumayan lah. Masih ada orang yang menganggapku layak. Tahun kedua aku sama sekali tidak mendapatkan uang. Dan, di tahun ketiga aku mulai antusias lagi menyambut hari raya Idul Fitri karena ada doi. Ceilahhh.

Dandan sebaik mungkin, berharap ketika berangkat dan pulang salat ied bisa berpapasan sama doi. Lebih berbunga-bunga lagi kalau kebetulan kita bersilaturahmi ke rumah yang sama. Begitulah rasanya punya doi tetangga satu RT.

Hmm, kenangan tinggallah kenangan. Kini, aku telah dewasa dan menyandang status mahasiswa semester akhir. Sedikit demi sedikit aku juga sudah merasakan bagaimana rasanya mencari uang. Begini yah, mendapatkan uang dengan jerih payah, tapi sangat mudah dan cepat untuk bisa menghabiskannya. Tinggal pergi ke toko baju, ludes deh itu uang.

Waktu masih kanak-kanak, mana aku peduli dengan yang namanya kerja. Yang terpenting, mereka memberiku uang saat lebaran. Kalau yang tidak memberi padahal sudah bekerja berarti pelit. Terlebih kerjanya di Jakarta. Wuih, Jakarta dalam imajinasi masa kanak-kanakku merupakan gudangnya uang. Sepolos itu pikiranku. Eh, polos atau picik sih? Hihihi. Lha, namanya juga kanak-kanak.

Setelah usiaku 22 tahun, aku merasa bersalah pernah berpikiran seperti itu. Why? Karena aku sama sekali tidak tahu bagaimana perjuangan mereka untuk bekerja, berangkat pagi pulang malam, kadang lembur sampai pulang pagi. Kadang sakit tetap dibela-belain berangkat, demi apa? Demi bisa pulang kampung dan bagi-bagi duit plus nggak dibilang pelit sama kanak-kanak macam aku. Parahnya, sekarang mah bukan Cuma dikira pelit sama kanak-kanaknya, orang tuanya bahkan ikutan nyinyir di belakang.

“Eh masa si A, nggak bagi-bagi duit. Padahal mah kerjanya di Jakarta. Pelit ya.”

Nyinyiran macam itu sempat aku dengar di lebaran tahun lalu, ketika aku berumur 21 tahun dan belum merasakan susahnya mencari uang. No comment saat itu sih. Tapi sekarang, hatiku ikut ngilu. Ya kalau yang benar-benar pelit sih oke oke saja lah, lha wong memang pelit. Sakitnya itu kalau orang yang sebenarnya nggak pelit, tapi ada kejadian tidak mengenakkan yang terjadi sebelum pulang kampung atau ada kebutuhan mendadak yang urgent banget sehingga nggak bisa bagi-bagi uang. Nah yang begitu itu, terkadang kita nggak mau tahu.

Hmm. Jika kamu adalah seorang Ibu atau Bapak, please yang husnudzon saja lah. Kalau kamu adalah seorang kakak yang baik, jika adikmu mengatai orang dengan kata ‘pelit’, please beri pengertian dengan bahasa mereka ya tjuyy. Selamat generasi muda kita. Jangan sampai sadarnya ketika umur 22 tahun kek aku. Hihihi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here