Tidak ada manusia yang terlahir sempurna dan tidak ada manusia yang ingin dilahirkan dengan ketidaksempurnaan. Kita tentu sadar bahwa setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, tapi terkadang kita tidak mau menghargai dan perduli terhadapnya, terutama terhadap kekurangan orang lain. Kebanyakan dari kita masih memandang orang-orang berkebutuhan kusus (difabel) dengan sebelah mata, memandang mereka rendah.

Padahal mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan layanan publik. Juli lalu, dunia pendidikan ditampar dengan mencuatnya kasus bullying terhadap salah satu mahasiswa di Universitas Gunadarma. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih minimnya perhatian terhadap penyandang difabel, terutama dalam bidang pendidikan. Perlu dicatat dan diingat bahwa difabel atau orang dengan berkebutuhan khusus atau yang biasa dikenal sebagai penyandang cacat juga berhak mendapatkan pendidikan.

Hal tersebut tercantum di dalam Undang-Undang Penyandang Kecatatan Tahun 2007 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun sayangnya, Undang-undang tersebut belum berfungsi secara optimal.

Memang tidak dipungkiri bahwa kampus-kampus di Indonesia dengan tangan terbuka menerima calon mahasiswa berkebutuhan khusus, akan tetapi tidak diimbangi dengan pemenuhan infrakstuktur dan pelaksanaan proses belajar mengajar yang sesuai dengan kebutuhan difabel. Keterbukaan tangan mereka nampaknya masih mentah.

Gagasan kampus inklusif yang ramah difabel hendaknya tidak hanya sekedar gagasan cerdas yang tidak kunjung tuntas, sehingga aplikasi dari konsep dan teori tentang pemenuhan kebutuhan para difabel akan pendidikan tinggi dapat segera terwujudkan. Seperti pengadaan sarana belajar dan fasilitas khusus yang memudahkan aksesbilitas, serta tersedianya lingkungan sosial yang mendukung interaksi sosial para difabel.

Terdapat lima Universitas terbaik di dunia yang tercacat sebagai kampus ramah difabel menurut collegechoice.net. Kampus-kampus di Indonesia hendaknya bisa mencontohnya. Mungkin sulit untuk menjadi sama atau sejajar dengan mereka, tapi setidaknya dari 5 kampus tersebut bisa menjadi motivasi dan acuan untuk mewujudkan kampus ramah difabel. Kelima kampus tersebut yaitu:

1.University of Michigan

Universitas ini memberikan akses kepada mahasiswa difabel hanya 5 bulan setelah Vocational Rehabilition Act tahun 1973. Universitas tersebut secara resmi mengakui Office of Disabled Student Services yang berganti nama menjadi Service for Students with Disabilities (SSD) di tahun 1989. Sejak saat itu SSD telah mendukung siswa difabel di tingkat nasional hingga internasional. SSD memberikan layanan gratis kepada siswa dengan bantuan teknologi Modern Language Aptitude Testing dan mengelola perpustakaan digital HathiTrust dengan sumber daya yang baik.

2.University of Southern California

University of Southern California atau yang dikenal dengan USC menawarkan layanan Disability Services and Programs (DSP) di Unit Kemahasiswaan. DSP menyediakan layanan serta dukungan yang diperlukan untuk mengembangkan potensi siswa difabel di tingkat akademis hingga pencapaian karir. Layanan gratis yang diberikan meliputi tutorial, note taking, akomodasi khusus saat ujian, teknologi bantu ketika di kelas yang disesuaikan dengan keadaan disabilitas siswa.

3. Northeastern University

Northeastern’s Disability Resource Center (DRC) dibuka setiap hari kerja dan menawarkan serangkaian layanan kepada mahasiswa difabel secara gratis setelah pendaftaran. Sesi pelayanan organisasi ini meliputi pengenalan program, fasilitas kampus, peluang teknologi kampus hingga dukungan advokasi diri.

4. Xavier University

Xavier University menawarkan program gratis untuk mengakomodasi siswa difabel serta memfasilitasi pembelajaran dengan lebih baik. Disability Service (DS) bekerja sama dengan fakultas untuk memastikan penyediaan fasilitas yang layak bagi mereka. Layanan meliputi pendampingan ujian, penyediaan referensi dalam bentuk textbooks, akses dan bantuan note taking, tempat tinggal dan asisten hewan. ClockWork adalah layanan gratis lainnya yang disediakan untuk mengakses penjadwalan dan database DS dalam mengelola pelayanannya.

5. University of Texas

Di divisi Diversity and Community Engagement, University of Texas mengelola kantor layanan siswa difabel dengan nama Services for Students with Disabilities (SSD). Pelayanan kantor ini berupa program teks alternatif, ujian adaptif, bantuan teknologi informasi dan interpreter bahasa isyarat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here