Pemilihan pasangan calon presiden ternyata berakhir dramatis seperti drama korea, kubu petahana betul-betul memberikan kejutan kepada kita semua KH. Ma’ruf Amin dipilih untuk mendampingi Jokowi dalam pilpres 2019 dan memupus harapan Mahfud MD yang dari beberapa hari sebelumnya menyiapkan diri seolah sudah yakin dirinya yang akan mendampingi Jokowi, tapi nyatanya orang tua tak merestui dan Mahfud Harus mengikhlaskan posisi cawapres kepada KH Ma’ruf Amin.

Hampir mirip dengan cerita yang belum lama ini viral yaitu mas Pur, ia yang sudah percaya diri dan yakin dirinya akan dipilih menjadi suami novita tapi ternyata novita memilih untuk pergi bersama pasangan pilihan orangtuanya. Sungguh hati pasti teriris ketika ditinggal lagi sayang-sayangnya ugh! Yang pasti mungkin itulah yang dialami oleh Mahfud MD saat pengumuman oleh Jokowi. Dia harus berbesar hati walau kabarnya sudah mengukur baju untuk dipakai ketika mencalonkan diri.

Panggilan sejarah yang dibicarakan oleh Mahfud MD ternyata panggilan palsu dan fana, tetapi disinilah rasa cinta Mahfud kepada NKRI diuji. Coba kita tengok kata kata Mas Pur saat terahir perjumpaanya dengan novita, “karena aku sayang kamu, aku harus melihat kamu bahagia meski bahagianya bukan sama aku tapi ada satu hal yang harus kamu ingat, disini ada hati yang selalu dengan tulus menyayangimu” mungkin rasanya seperti tertusuk oleh pisau disaat sedang sariawan atau kamu diputusin pacar disaat kamu kepengen buang air tetapi sedang kekeringan.

Coba kita bayangkan yang bilang kata-kata itu adalah Mahfud MD ” aku dipanggil oleh sejarah, udah sangat berharap, tapi apapun itu aku harus melihat NKRI tetap utuh dan mengurangi riak riak politik, tapi perlu kamu ingat, disini ada hati yang dengan tulus akan membangun NKRI” hemmm so sweet yah tapi sakit dijani karena ini berkaitan langsung dengan hati. Salut untuk bapak Mahfud MD yang telah legowo melepas egonya dan memilih mengikuti alur politik yang makin semrawut.

Sekarang ini semua calon mendekat pada mayoritas karena terbukti, di Indonesia isu strategis yang mampu menjadi alat politik adalah pengerahan massa dan penggiringan opini publik via media maya. Berkaca dari Jakarta pada pilkada kemarin, semua calon Presiden berlomba mencari tameng atau pengaman agar dirinya terhindar dari penggiringan opini publik, terlebih lagi isu agama.

Pengalaman pahit kita di Jakarta sampai muncul GNPF MUI untuk mengharamkan salah satu pasangan calon, dan sekarang ketika ketua MUI jadi Calon Wakil Presiden Jokowi seakan membeli stempel halal beserta juru stempelnya, sak tukang tukange digawa sekalian dan pastinya lawanya tidak bisa menggunakan isu ulama dan ijtima’ yang nggak jelas itu. HMI pun harus bersabar, karena kadernya di tinggal di detik detik terahir itu memberikan harapan besar lalu ditinggalkan.

Mahfud MD adalah sosok negarawan yang sesungguhnya, dia paham betul bagaimana kondisi dan situasi politik hari ini yang lebih berpihak pada pemilik cap halal dari pada seorang akademisi yang sudah teruji. Walau berat bagi Mahfud, ia tetap bisa menerima hasil keputusan demi kemaslahatan umat dan demi keutuhan NKRI, karena Mahfud yakin dirinya akan mendapatkan ganti dari harapan hampa yang telah ia terima. Huasyuuuh

Semoga apa yang kita saksikan hari ini menjadi pembelajaran bagi kita bahwa politik itu benar-benar dinamis, jangan baper apalagi terlalu percaya diri. Dan melihat yang kita cintai bahagia itu lebih penting dari pada memilikinya jleb! Wassalam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here