Pernah mendengar ungkapan ‘malu bertanya sesat di jalan’? Ungkapan tersebut sudah familiar di telinga kita, bahkan ketika aku masih mengeyam pendidikan di SD juga sudah paham banget sama ungkatan yang satu ini. Kalau main sepedaan ke jalan yang belum pernah dilewatin terus takut nyasar, pasti aku beranikan diri bertanya ke orang. Alhasil, aku bisa pulang tepat waktu tanpa dimarahi Bapak karena mainnya nggak ingat waktu.

Awal tahu ungkapan tersebut aku mengira bahwa maknanya hanya sekedar jika kita malu bertanya, nanti bakalan tersesat di jalan, nggak tahu arah jalan pulang (aku tanpamu, butiran debuuuuuu). Memasuki masa pendidikan di SMP, penafsiranku tentang ungkapan tersebut semakin berkembang. Jika kita malu bertanya ke guru perihal mata pelajaran yang belum dimengerti, maka kita akan tersesat dalam ketidakpahaman. Maka, jadilah aku seorang murid SMP kelas VII yang gemar bertanya kepada Bapak dan Ibu guru. Biarin dikira apa-apa nggak maksud, toh Bapak Ibu Guru senang kalau ada murid bertanya. Paling teman yang suka geregatan. Sudah di ujung detik-detik menjelang istirahat tapi aku malah mengajukan pertanyaan. Urusannya jadi panjang. Selama SMP, aku termasuk murid yang gemilang prestasinya, karena apa? Karena nggak malu bertanya.

Masa-masa SMA, penafsiranku masih sama. Tapi, aku sudah malas bertanya ke guru. Gengsinya sudah ada tjuy. Malu gitu tanya-tanya melulu. Jadi ya, tetap tanya tapi bukan ke Guru. Ke teman semeja, teman akrab, atau teman tapi sayang. Tibalah saatnya mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. Semangatku menggebu-gebu, terutama semangat untuk dapat gebetan dan mempunyai kisah percintaan ala-ala FTV. Aku memutuskan menjadi orang yang pendiam, dalam artian tidak banyak bertanya. Kali aja kalau cewek kalem dan pendiam banyak yang naksir. Nyatanya, nol. Setelah OSPEK berlalu, ya sudah, balik lagi ke perangai aseliii.

Awal perkuliahan, dosen menjelaskan banyak hal terkait perkuliahan. Setiap mata kuliah pasti ada saatnya untuk presentasi. Dalam setiap presentasi disediakan sesi tanya jawab. Siapa yang bertanya maka akan mendapatkan nilai tambahan. Mengetahui hal tersebut, penafsiranku tentang ungkapan ‘malu bertanya sesat di jalan’ berganti lagi menjadi ‘malu bertanya nggak dapat nilai tambahan’.

Tahun pertama kuliah memang menjadi tahun yang penuh semangat, semangat untuk belajar dan semangat tebar pesona. Aku berambisi, IP harus selalu cumlaude setiap semesternya. Iming-iming nilai tambahan membuatku semakin semangat belajar. Sebelum jadwal presentasi tiba, aku sudah membaca seputar materi yang akan dipresentasikan. Otw jadi mahasiswa ideal. Niatnya sih gitu.

Tahun demi tahun berlalu, benar saja, aku bisa mendapatkan IP cumlaude setiap semesternya. Walaupun ada satu semester yang IP-nya mepet banget, efek patah hati. Heeee. Ternyata, ungkapan ‘malu bertanya sesat di jalan’ punya cerita dan efek yang luar biasa dalam hidupku. Menjelang wisuda, ada satu hal yang membuatku menyesal. Aku selalu malu dan tidak berani bertanya kepada diri sendiri tentang perasaan yang tertinggal di masa lalu. Aku juga malu untuk bertanya kepada orang yang bersangkutan. Malu harga diriku turun, malau kalau ternyata dia menganggap semuanya sudah selesai. Selama empat tahun, aku sudah bertanya banyak hal kepada dunia (alaiiyyyy), tapi tidak pernah berani bertanya kepada diriku sendiri.

Lalu, aku sadar. Kalau aku tidak bertanya, bagaimana tahu jawabannya? Kalau aku tidak bertanya, kapan aku mendapatkan jawaban? Terkadang sudah bertanya pun tidak dijawab. Terlebih kalau tidak bertanya sama sekali.

“Kamu tahu apa yang lebih menyakitkan dari jawaban yang tidak kunjung didapatkan? Adalah pertanyaan yang tidak sempat ditanyakan”

~kutuhati~

Itu adalah salah satu quote yang aku tulis di akun instagramku (sekalian promosi) @kutuhati. Tjuy, ketahuilah, banyak penyesalan yang terjadi karena kita tidak sempat bertanya dan membiarkan semuanya berakhir dengan kesimpulan kita, berdasarkan cara pandang kita sendiri.

Sekarang, bagiku ‘malu bertanya, sesat di perasaan’. Sungguh. Untuk kalian dan urusan yang belum selesai di masa lalu, tanyakan pada yang bersangkutan. Selagi sempat, selagi masih ada waktu, selagi masih ada kesempatan. Apapun jawabannya, bagaimanapun akhirnya, setidaknya kamu sudah bertanya. Dan, itu akan melegakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here