Kemarin, 23 Juli 2018 telah dilaksanakan Audiensi tentang Kartu Tanda Mahasiswa yang bermasalah di Gedung Student Center IAIN Purwokerto untuk meminta kejelasan terkait pembuatan KTM yang sampai 2 tahun belum juga sampai ke tangan mahasiswa. Acara ini dihadiri oleh Pihak Bank BRI Syariah selaku bank kerjasama, Pihak Kampus, dan pihak mahasiswa yang KTM nya bermasalah


Menurut pihak Bank BRI Syariah program pembuatan KTM di IAIN Purwokerto adalah program co branding. Pembuatan KTM + ATM program co branding Bank BRI Syariah dengan pihak IAIN Purwokerto memiliki beban biaya 50.000 rupiah kepada mahasiswa. Beban biaya 50.000 ini adalah untuk pembuatan rekening Bank, sementara untuk KTM adalah gratis. Namun sayangnya, kenapa pembuatan KTM IAIN Purwokerto sangat lama?

Alasan mengapa proses pembuatanya hingga 2 tahunan, Bank BRI Syariah Beralasan bahwa mahasiswa yang belum memenuhi syarat pembuatan KTM + ATM karena belum punya KTP tidak bisa di hubungi. Karena data yang belum terkumpul seluruhnya maka pembuatan KTM IAIN Purwokerto menjadi sangat tertunda. Namun, Alasan ini disanggah oleh salah satu Mahasiswi yang bernama Wina Nur Malasari mahasiswa Perbankan Syariah 2017 yang tidak pernah dihubungi oleh pihak BRI Syariah padahal satu kelas belum memiliki KTM + ATM

Alhasil Pihak BRI Syariah menyanggupi diselesaikannya pembuatan KTM+ATM selambat lambatnya selama satu bulan dari tanggal 23 Juli 2018 dan segala kecacatan KTM yang telah tercetak akan menjadi tanggungjawab sepenuhnya BRI Syariah.

Pihak Kampus seharusnya lebih selektif dalam memilih mitra co branding, pilihlah perbankan yang memang benar-benar siap dan mampu membuat KTM yang menjadi Hak Mahasiswa tersebut. Ibarat Motor Tanpa STNK saja ditilang polisi, malang nian mahasiswa baleng yang nggak punya  Kartu Tanda Pengenal, uwo uwo uwo

Mungkin Founder Kampusked.com juga perlu mengadakan kerjasama dengan pihak Bank yang mau menjadikan tulisan sebagai jaminan pinjaman hehehe ngarep.

Kembali ke Audiensi diatas, semua pihak harus berperan dalam menangani kasus yang kecil ini, Mengurus KTM saja kok banyak alasan, kaya lagu dangdut saja.

Pihak kampus juga jangan lempar tanggungjawab begitu saja, fungsi controling harus dijalankan dengan baik menyangkut hajat hidup mahasiswanya, biar kampusnya makin berkemajuan ciee ciiee. Mahasiswa juga merasa diperhatikan, dengan demikian diharapkan kedepan memang benar-benar tersinkronisasi antara pihak ketiga dan pihak kampus agar mahasiswa tidak lagi jadi korban. kasihan mereka, ditinggal menikah sama mantan mereka saja sudah berat ditambah KTM yang belum juga mereka terima.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here