Home / Ceritaku / Konspirasi Sol Sepatu: Maaf, Mahasiswa sehat?
Konspirasi tidak hanya ada dan terjadi di kalangan elit, tapi di semua lapisan masyarakat/ via edukasibanten.net

Konspirasi Sol Sepatu: Maaf, Mahasiswa sehat?

Aroma kopi pagi itu masih tercium hangat dan segar, meresap pada embun yang masih menetes di tepian hari. Sungguh nikmat. Ditambah sebatang rokok cap bintang sembilan yang tiada duanya. Dunia terasa tentram dan damai. Adalah Dulah si pemilik itu semua, seorang mahasiswa tingkat akhir yang semesternya sudah banyak.

Tiap pagi Dulah selalu membeli rokok cap bintang sembilannya itu di warung sebelah rumah. Warung langganan yang bukan tanpa alasan. Dulah mengerti, selain karena membeli rokok di toko modern jaraknya lumayan jauh, juga karena beberapa hari yang lalu sudah ada yang mengeluarkan fatwa haram terhadap toko modern.

Satu-dua kali Dulah menyeruput kopi dengan suara yang begitu khas. Berselang sebentar kepulan asap rokok kemudian keluar dari celah bibirnya, sangat mirip dengan asap yang dihasilkan pabrik-pabrik di kota besar.

Tidak terasa dua jam berlalu, ampas kopi di dalam gelas sudah nampak. Rokok cap bintang sembilannya pun tinggal menyisakan puntungnya saja. Itu tandanya Dulah harus segera pergi mengembara.

Hendak berangkat, Ia tiba-tiba tertegun dan gusar.

“Walah, ternyata sepatuku njeplak

Tanpa berpikir panjang, Dulah pun membawa sepatu yang baru dibelinya seharga Rp.250.000 itu menuju ke rumah tukang sol sepatu tak jauh dari rumah tinggalnya.

Sesampainya disana, kedatangan Dulah ternyata sudah ditunggu oleh si tukang sol sepatu, pak Pahing namanya.

Kulanuwun” Dulah mengawali.

Pak Pahing dengan gayanya yang seperti biasa, betelanjang dada, kemudian menghampiri Dulah.

“Gimana Dul?, Sepatumu rusak?”

Dulah pun tak kaget ketika pak Pahing tahu maksud dan tujuannya datang.

“Iya pak, padahal sepatu baru” jawab Dulah langsung sembari memberikan sepatunya yang sedari tadi tadi Ia pegangi.

“Ya sudah duduk dulu, tunggu sebentar”

Di sebuah bangku kecil di samping deretan sepatu lain milik pelanggan pak Pahing, Dulah pun duduk menunggu.

Sembari melihat pak Pahing memperbaiki sepatunya, Dulah celingukan melihat beberapa rak berisi buku-buku koleksi yang terjejer disana, yang tidak lain adalah perpustakaan pribadi pak Pahing.

Ya, menurut cerita-cerita tetangga, walaupun hanya tukang sol sepatu, pak Pahing punya banyak koleksi buku. Namun sebelumnya hanyalah sekadar cerita, dan baru kali ini Dulah meilhatnya langsung.

Selang beberapa menit berlalu pak Pahing mengerjakan sepatu Dulah, kemudian entah apa yang terbersit dalam pikiran pak Pahing, Ia pun bertanya pada Dulah “Kamu gak ikut demo dul?”

Dulah hanya menjawabnya dengan “Enggak pak, sudah pernah hehe”, kemudian tersenyum ringan.

“Bangsa ini sebenarnya bangsa yang besar Dul, tetapi akhir-akhir ini banyak orang yang suka bikin saya ketawa”.

“Loh, kenapa begitu pak?” tanya Dulah terheran.

“Negara Indonesia itu negara besar, jika kekayaan alamnya dikelola secara baik, maka kemiskinan tak sebesar ini” jelas pak Pahing sembari memukul-mukul jarum sol agar dapat tembus di kulit sepatu.

Entah apa yang terbesit, Dulah kemudian melong.

“Tapi kok aku heran, belakangan ini banyak orang selalu menganggap Indonesia negara jelek”

“Jeleknya?” Dulah kembali bertanya heran ketika pak Pahing melanjutkan.

“Ya, banyak orang bilang PKI lah, komunis lah, seolah khilafah adalah yang paling baik, padahal di Suriah sana khilafah justru membuat pertumpahan darah lebih besar”

Tertarik dengan perkataan pak Pahing, Dulah pun berusaha menambahi “Mungkin seperti itu pak, dan mahasiswa sekarang juga ikut-ikutan menyebarkan berita hoax yang ada di medsos, kadang dosenya juga ikut-ikutan biar ngetrend“.

“Lah iya, itu kecelakaan sekarang, Indonesia itu bisa ada karena keberagaman, kok mau disamakan dengan timur tengah, dengan mengadu domba warga Indonesia” Sambil mengulur benang pak pahing meneruskan.

Kurang lebih sepuluh menit ngalor-ngidul membahas negeri Indonesia, akhirnya sol sepatu pun selesai dikerjakan.

“Nanti saya ceritakan lain waktu soal buku baru yang baru saya beli, BAGAVAD GITA” tambah pak pahing.

Dulah kemudian bergegas pulang karena merasa minder dengan pak Dulah, seorang tukang sol sepatu yang punya wacana luas, bahkan memiliki perpustakaan pribadi. Sedangkan Dulah, buku yang ia miliki hanya sebatas buku mata kuliah yang ia beli jika ada dosen mewajibkannya. Membeli buku karya dosen itu sendiri.

About zulfikar abdulah

Seseorang yang dalam perjalanan mencari sesuatu yang entah apa, entah dimana, dan dimana mana ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *