Setelah beribu purnama terlampaui, segala rintangan dihadapi, beratus-ratus ribu habis untuk nge-print, detik demi detik berlalu untuk menunggu dosen dan menyaksikan skripsi dicorat-coret. Tibalah saatnya untuk ujian pendadaran wahai kamu mahasiswa yang haus akan wisuda dan sudah berkali-kali ditanya Emak, “kamu kapan lulusnya?”

Berbicara tentang ujian pendadaran, ini merupakan gerbang menuju masa depan. Nasib mahasiswa untuk berhak menyandang gelar Sarjana dipertaruhkan dalam hitungan jam. Duduk di kursi di hadapan para dosen penguji dan teman seperjuangan, memaparkan apa yang sudah diteliti dan ditulis. Ekspresi dan mimik wajah dosen penguji terdakang membuat grogi. Eh, sebentar, ini yang nulis belum pernah merasakan ujian pendadaran. Tapi sudah menyaksikan ujian pendadaran berkali-kali. Ya jadi sedikit banyak sudah tahu tipe-tipe groginya mahasiswa saat ujian pendadaran. Begitu ya kurang lebihnya.

Saat dosen penguji memberikan jeda waktu untuk merundingkan nasib perkuliahanmu selama ini, itulah saat-saat yang juga mendebarkan. Saya yang menyaksikan saja ikut berdebar-debar, apa lagi yang habis diuji? Ah, biasa aja tuh. Hmm, masa hatimu nggak berdebar? Ya mati, nggak jadi revisi. Hix.

Saat jeda waktu itulah, dua hal bergemuruh dalam benak, yakni lulus atau tidak lulus. Eh, engga juga. Untuk mahasiswa yang jos, bukan cuma itu, tapi ditambahi ‘dapet nilai apa ya’. Kalau yang lulus atau tidak lulus, mungkin itu saya, nanti.

Ya secara umum yang menjadi pertanyaan adalah lulus atau tidak lulus. Tapi eh tapi, sebenarnya bukan hanya lulus atau tidak lulus, dapat nilai berapa ya, ada hal lain yang mungkin tidak banyak orang memperdulikan. Ah, kasian bukan? Tidak diperdulikan.

Apakah itu? Yakni lulus atau lolos. Nah, loh.

Mari kita kaji dua kata yang hanya beda huruf vokalnya ini.

Menurut KBBI, kata ‘lulus’ memiliki arti dapat masuk atau lalu (ke dalam atau dari lubang dan sebagainya), dapat lepas atau lucut (seperti gelang dari tangan atau cincin dari jari), terperosok masuk (seperti kaki ke dalam lantai bambu dan sebagainya), berhasil (dalam ujian); dapat melalui dengan baik (dalam menghadapi segala cobaan), diperkenankan; terkabul (tentang permohonan, permintaan, dan sebagainya), hilang lenyap, lelap, tidak dapat ditebus lagi (tentang barang gadai).

Sedangkan kata ‘lolos’ menurut KBBI memiliki arti lucut lalu lepas (seperti cincin dari jari), terlepas lari (dari kurungan, kepungan, dan sebagainya).

Jika kita lihat arti kata kedua hampir mirip ya? bedanya dimana?

Oke, kita pakai konteks ujian pendadaran. Lulus ujian pendadaran berarti kamu sudah berhasil dalam ujian pendadaran. Lolos ujian pendadaran berarti kamu berhasil lepas dari (kurungan, kepungan) ujian pendadaran.

Kedunya intinya sama. Tapi, jika memakai kata ‘lulus’ nilainya lebih positif ketimbang ‘lolos’. Masih bingung? Yo wes, pakai contoh kalimat lain.

Contoh 1

Dia berhasil lulus ujian pendadaran

Contoh 2

Perampok itu berhasil lolos dari kejaran polisi

Sudah ada gambaran saudara-saudaraku yang budiman? Kalau contoh satu diubah menjadi ‘dia berhasil lolos ujian pendadaran’ dan contoh 2 diganti menjadi ‘perampok itu berhasil lulus dari kejaran polisi’, lucu nggak?

Haha, malah saya yang ketawa-ketawa ini sambil nulis. Saya tanya lagi deh? Lucu nggak? Aneh nggak?

Makanya, kalau kamu lolos ujian pendadaran ya itu lucu. Ujian pendadaran kok bisa lolos? Kalau gitu ya nanti kamu bukan lulusan dari Universitas A. Tapi lolosan dari Universitas A. Kamu sama saja kaya subjek dalam kalimat ‘Perampok itu berhasil lolos dari kejaran polisi’.

Kalau kamu lulus ujian pendadaran lha baru nantinya kamu disebut sebagai lulusan dari Universitas A.

Nah, makanya, berdoa supaya dosen penguji itu meluluskanmu bukan meloloskanmu. Ngono loh, saudara-saudarku yang budiman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here