Home / Juguran / Masih Kenalkah dengan Kitab Kuning dan Kitab Gundul?

Masih Kenalkah dengan Kitab Kuning dan Kitab Gundul?

Kitab Kuning dan Kitab Gundul – Kitab kuning dan kitab gundul adalah salah satu rujukan dalam agama islam terutama di Indonesia. Di negara manapun sepertinya tidak ada yang menamakan sebuah kitab atau buku dengan sebutan kitab kuning dan kitab gundul. Istilah kitab kuning dan kitab gundul dipopulerkan dan dilestarikan penamaannya oleh dunia pesantren ahlussunah wal jamaah

Disamping itu, bagaimana orang Indonesia (khususnya jawa) yang memberikan nama lain pada sebuah buku atau catatan adalah cara untuk memberikan rasa hormat kepada kitab kuning. Dalam tradisi masa lalu, sepertinya dikenal 3 macam buku, yakni buku kitab suci (Al-Qur’an), Buku ilmu agama (Kitab kuning/ kitab gundul), buku biasa (tetap dinamakan buku). Cara ini sepertinya dibuat karena ada proporsi penghormatan yang berbeda antara masing – masing status buku tersebut

Lalu, penasarakah sebenarnya apa itu kitab kuning dan kitab gundul? sama atau beda?

Apakah Kitab Kuning dan Kitab Gundul Itu?

kitab kuning dan kitab gundul1

Jika melihat makna dari apa yang dimaksud sebagai kitab kuning dan kitab gundul dikalangan dunia pesantren maka keduannya adalah sama. Dinamakan kitab kuning karena kertas yang digunakan pada waktu dulu kebanyakan menggunakan cetakan kertas berwarna kuning. Padahal tidak semua kitab dicetak dengan warna kuning, apalagi era kekinian yang banyak menggunakan kertas putih, tetapi dalam penyebutan kitab kuning maka artinya adalah kitab rujukan agama islam yang di buat oleh para ulama salaf (ulama terdahulu). Padahal ada juga kitab klasik yang menggunakan warna cetakan kertas putih seperti : Durrorul Bahiyyah

Kitab gundul adalah penyebutan lain dari kitab kuning. Disebut kitab gundul karena dahulu kebanyakan menggunakan bahasa arab dan tidak memiliki harakat (tanda baca). Dalam praktek dunia pesantren, kitab yang tidak memiliki tanda baca (kitab gundul) digunakan untuk sarana belajar bahasa arab dan ilmu agama. Kitab gundul dijadikan media yang terbukti ampuh untuk belajar tata bahasa arab (nahwu dan shorof) dengan metode shorogan dan bandungan

KH Maimoen Zubair,  pengasuh Pesantren Al Anwar dan juga mudir ‘Am majalah At Turast (majalah pegon di Yogyakarta) mempunyai pemikiran yang cemerlang. Menurutnya, kuning yang ada dalam istilah kitab kuning itu diambil dari kata Arab “ashfar” yang mempunyai arti kosong. Jadi, kalau seseorang ingin menjadi kiai atau ulama yang alim dalam masalah agama, dia harus bisa membaca kitab dengan kosong, tanpa memakai makna gandul (makna pegon ditulis miring) dan harakat (22/09/2012) dikutip dari ngaji.web.id

Kitab kuning dalam dunia pesantren banyak dikaji sebagai media belajar bahasa arab dengan metode pegon (metode ciptaan mbak kholil bangkalan). Pegon adalah bahasa jawa yang ditulis menggunakan huruf arab (bukan menggunakan bahasa arab). Mbah Kholil bangkalan juga memberikan kode – kode khusus untuk mempermudah pembelajaran bahasa arab dengan sistem bandungan, seperti : huruf “mim” yang melambangkan “mubtada” dengan dibaca “utawi”, huruf “kha” yang melambangkan “khobar” dengan dibaca “iku”, dan lain sebagainya

Sejarah Kitab Kuning dan Kitab Gundul

kitab kuning dan kitab gundul

Kitab gundul kebanyakan adalah naskah para ulama pasca Khulafaa al-Rasyidin yang ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab tanpa harakat, tidak seperti Al-Qur’an yang lengkap dengan tanda bacanya.  Tujuan pemberian tanda baca pada Al-Quran adalah untuk membatu  bagi orang-orang non arab untuk mempermudah pembacaannya dan penyeragaman bacaan. Sedangkan bagi orang yang menguasai tata bahasa bahasa Arab maka dapat dengan mudah membaca kalimat tanpa harakat tersebut. Inilah yang kemudian di Indonesia dikenal sebagai Kitab Gundul untuk membedakannya dengan kitab bertulisan dengan harakat.

Sedangkan mengenai penyebutan istilah sebagai Kitab kuning, dikarenakan memang kitab-kitab tersebut kertasnya berwarna kuning, hal ini disebabkan warna kuning dianggap lebih nyaman dan mudah dibaca dalam keadaan yang redup. Ketika penerangan masih terbatas pada masa lampau, utamanya di desa-desa, para santri terbiasa belajar di malam hari dengan pencahayaan seadanya. Meski penerangan kini telah mudah, kitab-kitab ini sebagian tetap diproduksi menggunakan kertas warna kuning mengikuti tradisi, walaupun ada juga yang telah dicetak pada kertas berwarna putih (HVS).

Sebab lainnya, adalah karena umur kertas yang telah kuno yang turut membuat kertas semakin lama akan menguning dan menjadi lebih gelap secara alami, juga disebutkan ketika dahulu lilin/lampu belum bercahaya putih dan masih kuning maka kertas berwarna putih atau kuning sama saja akan tetap terlihat kuning, sehingga ketika kertas kuning dahulu lebih ekonomis maka penggunaan kertas kuning dapat meringankan ongkos produksi secara massal. Kini di era modern Kitab-kitab tersebut telah dialih berkaskan menjadi fail buku elektronik, misalnya chm atau pdf. Ada juga software komputer dalam penggunaan kitab-kitab ini yaitu Maktabah Syamila (Shameela) yang juga mulai populer digunakan dikalangan para santri pondok pesantren modern dikutip dari Wikipedia

Lalu, semakin kesini ditengah gemerlapnya dunia teknologi dan canggihnya mbah yang banyak tau (google), masih adakah yang terus belajar membaca kitab kuning atau kitab gundul? Disanalah sumber Ilmu agama bersemayam dan pembelajaran yang diberikan komprehensif tidak seperti google yang hanya sepotong – sepotong dan tidak bisa dipertanggung jawabkan

About Zaen D. Ach

Penikmat Kopi Hitam Dan Mendoan Anget Banyumasan

Check Also

Slamatkan Slamet

Menyikapi Pembanguan PLTP Geotermal Gunung Slamet, Critical Community Forum Lakukan Telaah Kajian

Seiring senternya wacana terkait pembangunan PLTP Geothermal yang dilakukan di hutan lindung gunung slamet semakin …

Launching FORSA Banyumas Dihadiri Bu Sinta Nurriyah, Bupati dan Ketua FKUB

FORSA Banyumas atau Forum Persaudaraan Lintas Iman Banyumas adalah sebuah lembaga yang mandiri dan berelasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *