Home / Juguran / Ketika Perjuanganku Berakhir di Tong Sampah
kaltim.tribunnews.com

Ketika Perjuanganku Berakhir di Tong Sampah

Ketika Perjuanganku Berakhir di Tong Sampah

Katanya, segala sesuatu itu butuh perjuangan. Tidak ada suatu hal yang dicapai tanpa perjuangan. Adanya kita di dunia ini juga merupakan perjuangan siang malam Bapak dan Ibu. Adanya sang pacar merupakan perjuangan kita memikat hatinya. Adanya sang mantan merupakan perjuangan kita untuk mempertahankan hubungan tapi gagal. Adanya situasi susah move on merupakan perjuangan kita untuk menyembuhkan luka namun masih belum berhasil karena si mantan doi muncul terus-terusan menyulut api kenangan. Ah, iya, semua memang butuh perjuangan.

Sebagai seorang mahasiswa, selain berjuang untuk dihalalkan atau menghalalkan doi, berjuang untuk lulus menjadi hal yang sudah semestinya. Ya, walaupun memang ada yang bilang “kuliah itu pasti, wisuda itu pilihan”.

Oke, kali ini kita abaikan saja para mahasiswa yang katanya kuliah bukan nyari gelar, kuliah itu nyari ilmu, kuliah itu nggak harus lulus tepat waktu, dan blablabla lain yang serumpun dengan itu. Biar, biarin, suka-suka mereka. Intinya mereka juga sedang berjuang. Berjuang di bidang masing-masing sesuai dengan tujuan dan pandangan mereka tentang kuliah.

Kali ini, mari bercerita tentang sebuah perjuangan untuk wisuda. Untuk bisa wisuda, maka skripsi merupakan gerbang utamanya. Untuk bisa menulis skripsi, maka niat adalah kuncinya.

Mengumpulkan niat merupakan perjuangan pertama dari rangkaian penulisan skripsi. Ada tipe orang yang seperti apapun lingkungan memberi motivasi, dia tetap diem-diem bae nggak ada gerakan. Hatinya tersentuh aja nggak. Ada juga tipe orang yang harus disentil dulu dengan kata-kata bijak penggugah semangat agar muncul niat untuk mengerjakan skripsi. Ada juga orang yang nggak bakalan gerak kalau belum kena batunya, seperti ditinggalin doi karena nggak lulus-lulus. Dan, masih banyak sih tipe-tipe lain versi kamu.

Ketika niat sudah muncul, tumbuh dan berkembang menjadi energi positif untuk bergerak mengerjakan skripsi, perjuangan selanjutnya adalah konsistensi.

Yang ini juga susah, sayang. Ibarat hubungan pasti ada bosennya. Mengerjakan skripsi juga begitu, ada bosennya, eh sering ding malah. Kadang rajin banget seharian hanya untuk mengerjakan skripsi, kadang males, bosan. Hmm, jangan dipaksa. Refresing dulu lah, tapi jangan kebablasan. Karena kalau sudah nyaman refreshing, mau mengerjakan skripsi lagi jadi malas. Bawaanya kebayang refreshing bareng dia terus. Indahnya. Hmm.

Setelah berhasil berjuang untuk konsisten, minimal konsisten buka folder skripsi, perjuangan selanjutnya adalah revisi. Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada skripsi tanpa revisi. Skripsi tidak hanya menyebabkan sakit mata karena harus mengejar deadline revisian, tapi juga menyebabkan sakit kepala, sebab pusing memikirkan biaya untuk ngeprint. Kecuali Papah Mamahmu tajir tujuh turunan mah nggak perlu pusing.

Aku sendiri terkadang menatap nanar lembaran skripsi yang dicorat-coret oleh dosen pembimbing. Sambil menelan ludah, hati bergumam, “sudah habis berapa rupiah, kira-kira butuh berapa rupiah lagi.”

Kemudian aku teringat gambar yang pernah aku lihat, dimana bergerobak-gerobak skripsi dibuang di tong sampah untuk kemudian dimusnahkan. Aku jadi bertanya-tanya, apakah hasil perjuangan mengumpulkan niat, konsisten, ngirit, lembur, dan semua hasil perjuangan selama ini akan berakhir di tong sampah seperti para skripsi terdahulu?

Menyedihkan. Kalau memang ujung-ujungnya dibuang, dibakar, ya mending tidak usah dikumpulkan semuanya, tidak usah neko-neko minta jilid sekian rangkap. Kalau dosen/ pihak kampus membutuhkannya untuk data atau dokumentasi ya cukup dalam bentuk softfile saja. Jika membutuhkan untuk inventaris perpustakaan ya pilih saja yang terbaik. Selebihnya, izinkan mahasiswa si pemilik skripsi menyimpan baik-baik skripsinya. Atau misal si pemilik skripsi mau membuang skripsinya ke tong sampah lalu membakarnya atas kesadaran dan kemauan sendiri ya silahkan. Karena barangkali dengan demikian, nama seseorang yang pernah ditulis di lembar persembahan juga ikut terbakar bersama perjuangan dan kenangan.

Setidaknya membuang skripsi ke tong sampah dan membakarnya dengan tangan sendiri lebih memuaskan ketimbang orang lain yang melakukannya.

About April

Cuaca pasti berubah. Tapi tetaplah menjadi langit yang sama.

Check Also

Mau Kuliah di Bekasi? Berikut 7 Perguruan Tinggi yang Bisa Kamu Pilih

Tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kendalanya bermacam-macam, mulai dari tidak ada kemauan, tidak …

Daftar Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Surabaya

Siapa sih yang tidak ingin kuliah di perguruan tinggi negeri? Umumnya, perguruan tinggi negeri memang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *