Kaos WAR adalah fana, tukang sablon yang abadi mungkin itulah istilah yang cocok menggambarkan keadaan saat ini untuk ngadem-ngademi masyarakat yang sedang sibuk urusan kaos politik. Pemilu semakit dekat, animo masyarakat semakin besar untuk mensukseskan agenda pesta demokrasi di tanah air tercinta.

Salah satunya adalah dengan bermunculanya kaos oblong bertulislan #GANTIPRESIDEN hingga viral diberitakan di berbagai media. Ada lagi kaos tandingan yang bertuliskan tentang hal sebaliknya misal #diasibukbekerja dan beberapa tulisan lainya.

Bagi saya yang mantan ahli gesut alias tukang sablon munculnya manuver politik melalui kaos-kaos sebenarnya sudah biasa terjadi di berbagai pemilu dari tahun ke tahun.

Tentu ini sangat menguntungkan bagi si pembuat kaos tersebut karena kebanjiran order, tapi belakangan si pembuat kaos #2019gantipresiden mulai resah dengan intimidasi dari para netizen yang menjadi pendukung presiden 2 periode.

Apa salah tukang sablon? Kami hanya membuat kaos dan harusnya masyarakat berterimakasih karena partisipasi tukang sablonlah pemilu menjadi berkesan karena ada kenang-kenanganya.

Disamping itu, tukang sablon juga membantu menaikan kualitas kaos pemilu dari tahun ke tahun mulai dari kaos yang mirip dengan kain saring tahu sampai saat ini kaos menjadi kualitas premium.

Mari kita lebih dewasa sebagai warga yang sadar akan demokrasi, jangan melulu digiring untuk saling bermusuhan hanya gara-gara beda tulisan di kaos oblong apalagi hingga memusuhi si ahli gesut yang hanya bekerja demi sepiring nasi.

Mungkin bagi para politikus hal seperti ini sangat berguna bagi elektabilitas para bakal calon yang akan maju atau untuk menggalang masa sebanyak-banyaknya dan mendapat simpatik masyarakat.

Tetapi beberapa kejadian yang terjadi belakangan ini seperti di acara CFD (car free day) di salah satu kota di Indonesia adalah sebuah kemunduran berpikir. Bagaimana tidak ada beberapa orang yang di intimidasi oleh sekelompok orang karena kaos yang digunakan berbeda.

Contohlah produsen kaos yang mengedepankan perdamaian misal kaos khas Jogja, Kaos khas Bandung, kaos khas Bali yang meski desain dan tulisanya berbeda mereka tetap sama-sama kaos yang murah meriah dan gampang di beli di pinggir jalan tanpa takut untuk memakainya kemanapun.

Sejak dahulu tidak ada yang ribut hanya karena berbeda kaos, yang satu memakai tinta plastiso atau rubber, atau kaos full color yang ditawar murah oleh para konsumen yang punya daya nawar tinggi

Kaos War harus segera di selesaikan dengan datangnya kaos lain yang lebih humanis dan murah serta berkualitas unggul.

Terlepas dari hiruk pekok perang tulisan di kaos hingga intimidasi kepada tukang sablon dan masyarakat, ingatlah wahaisahabat bahwa Kaos war adalah fana dan tukang sablon yang abadi. [Zul]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here