Pekan ini saya rasa kampus tengah menggelar berbagai acara yang menggiurkan untuk diikuti. Salah satunya Juguran Beranda Media (Jurendra). Mendengar kata juguran, imajinasi saya langsung melayang pada sekumpulan manusia yang duduk-duduk di beranda rumah dengan sajian kopi, mendoan cabe lima, makanan ringan yang dijual kiloan (sisa orang hajatan). Serta penggosipan yang objeknya (re: manusia) terstruktur.

Sayangnya, imajinasi saya sedikit meleset. Pertama, ruang yang digunakan untuk juguran bukan beranda rumah, tapi sepetak ruang yang muat banyak orang dan dilengkapi stopkontak yang acap kali diburu oleh generasi milenial saat si gawai mulai memberi kode bakal sekarat. Kedua, tidak ada mendoan, adanya makanan ringan warna-warni yang tidak sengaja saya habiskan. Yang ketiga, objek gosipnya bukan manusia, tapi media.

Ini sebenarnya juguran macam apa?

Dalah, ternyata, jugurannya ngobrol media yang tidak dekat dengan dosa, tetapi seputar penggunaan internet yang tengah menjamur di zaman milenial sekarang ini. Kampusked.com berkolaborasi dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Saka untuk membuat sebuah juguran yang kucuran dananya dari Kampusked.com. LPM Saka hanya tinggal mengonsep acara dan menyiapkan ruangan saja.

Juguran perdana ini bertema, “Menggenggam Media: yang Muda, yang Kreatif dan Produktif”. Mas Noval membukanya dengan mengabarkan keadaan media online di Indonesia. Ia mengatakan bahwa ada dua media online besar di Indonesia, yaitu: Kompas.com dan Detik.com.

Kompas.com yang digawangi oleh Jakob Oetama telah diciptakan sebelum zaman milenial yaitu pada tahun 1995. Kompas.com sengaja diciptakan dengan alasan bahwa sebuah lembaga media musti berubah. Sedangkan, Detik.com diciptakan karena kala itu media cetak telah diberangus oleh Soeharto.

Dari pembukaan tersebut, saya menangkap ada sinyal untuk menarik anak-anak muda yang mengikuti juguran media agar tidak saklek dalam berkarya khususnya di bidang tulis-menulis. Seperti yang dijumpai pada tema, anak muda yang kreatif dan produktif. Di sini, Kampusked.com menawarkan cara kreatif dan produktif yang gampang dan tidak dibuat spaneng dalam memilih bahan tulisan. Sebab, celotehan ringan pun bisa jadi bahan.

Dan, yang lebih saya tangkap lagi, ini salah satu cara pemasaran yang ciamik untuk menarik para jurnalis kampus yang ada di LPM Saka untuk ikut berkontribusi di Kampusked.com.

Saya pikir tidak ada masalah untuk sistem pemasaran yang disodorkan oleh Kampusked.com. Apalagi Kampusked.com memang mempunyai cita-cita agar bisa berkeliling ke kampus-kampus dan menjadi media mahasiswa di Purwokerto. Sehingga, penawarannya dalam memasarkan jasanya begitu menggiurkan. Beberapa alasan yang menggiurkan itu, seperti:

Pertama, dalam penulisan berita tidaklah boleh melanggar kode etik sebagai jurnalis. Dengan adanya Kampusked.com, barangkali bisa dijadikan untuk pelemasan otak agar tidak melulu hidupnya kaku. Sebab, menurut Mas Zen sebagai pemilik Kampusked.com bahwa siapapun boleh menulis apapun dengan gaya kepenulisan yang bebas.

Kedua, si penulis bakal tetap produktif nulis tanpa merasa dikejar-kejar deadline. Karena nulis sesukanya. Gaya sesukanya. Jelek juga tidak apa. Sebab, tulisan itu seperti manusia, sesekali bakal dehidrasi dan kemebul kalau tidak diguyur air hujan. Jadi, Kampusked.com saya pikir bakal menimbulkan suasana yang enjoy saja.

Ketiga, dapat kaos gratis. Di zaman milenial sekarang ini susah untuk mendapatkan kegratisan. Sehingga, kegratisan memang acap kali diburu oleh siapa saja bahkan mahasiswa. Karena, ya, yang gratis memang lebih bisa dinikmati tanpa ada rasa sayang-sayang yang dipendam dalam dada.

Tidak hanya tawaran yang menggiurkan, tapi kemasan dan isinya juga layak untuk dipertimbangkan. Visi misinya jauh ke depan dengan strategi gagasan yang dimunculkan dari pemikiran yang gila. Karena, seperti yang saya tahu, bahwa pemikiran gila yang lahir dari orang gila lah yang mempunyai keahlian dalam membaca lingkungan yang ada. Saya pikir crew Kampusked.com punya kegilaan itu.

Kegilaan itu dituangkan juga dalam kejeliannya merapal masa depan sebuah media, khususnya masa depan Kampusked.com. Menurut Mas Zen sendiri, bahwa ketika dalam jangka tiga tahun mereka masih ada, berarti keberhasilan ada di tangan mereka. Ketika selama tiga tahun tidak tak terdengar namanya lagi, tandanya mereka tenggelam dalam lautan yang sangat dalam. Heuheu.

Terlebih dari semua itu, hakekat untuk juguran sudah tercapai meski tidak ada mendoan cabe lima. Juguran yang isinya media dengan gagasan yang disodorkan cukup membekas di ingatan dan jadi inspirasi. Apalagi tambahan dengan kaos gratis yang dibagi-bagi, itu menambah ingatan untuk lagi. Heuheu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here