Halo jiwa-jiwa yang rindu piknik. Alhamdulillah ya masih bisa menjalankan puasa 1439 H. Puasa gini kalian tetap pada piknik nggak? Kalau aku sih iya (penginnya). Tapi, berhubung nggak ada yang ngajakin piknik nih, akhirnya dari awal Ramadan sampai tanggal 25 Maret 2018, aku Cuma berkutat dengan skripsi, nulis artikel, dan ngajar privat. Padahal dalam hati bertanya-tanya kapan bisa piknik? Otak sudah bundet akibat overload kata-kata.

Akhirnya, di tanggal 26 Maret 2018, aku memutuskan untuk mandi pagi lebih awal dari biasanya, yakni pukul 08.30. Mau kemana? Piknik? Nggak, niatnya mau refresh otak dengan cara nonton film fantasy. Yes, fantasy adalah genre film favoritku, apalagi kalau ada peri-perinya gitu. Hehe.

Selesai mandi, aku menjemur handuk di balkon kamar kos, tiba-tiba dari kejauhan, di gang menuju ke kos aku melihat sosok yang tidak asing. He is my brother, dia bersama seorang lelaki. Kesahariannya aku panggil Masku dengan sebutan Om. Tumben banget sih, bisanya kalau mau ke kos pasti si Om ngabarin dulu. Tapi ini nggak.

Aku langsung semangat menuruni anak tangga, rambut yang masih basah meneteskan air ke anak tangga, membuatnya sedikit basah. Untung nggak banjir. Belum sampai di gerbang aku sudah berteriak memanggil Om.

Si Om tertawa dan menutup mukanya dengan telapak tangan, “Duh! ketahuan dulu.”

Aku ikut tertawa, padahal nggak ada yang lucu. Lelaki yang dibonceng si Om mendekat ke arahku. Kirain dia itu Acil, anaknya tetangga sebelah. Eh pas maskernya dibuka, ternyata dia adalah Alam, sepupuku dari Jakarta. Aku bisanya panggil dia Aa.

Terakhir ketemu si Aa sekitar bulan November. Waktu itu aku habis ada acara kompetisi majalah on line gitu di Tangerang. Baliknya mampir dulu ke rumah Aa. Terkejut juga sih tiba-tiba dia nongol. Katanya lagi ambil cuti dan pengin diajak main.

Sebagai anak kota yang sudah bosan dengan mall, si Aa minta diajak main ke Baturraden. Bagi aku yang entah sudah berapa kali bolak-balik ke Baturraden, rasanya bosan. Hehehe.

Akhirnya aku menawarkan opsi lain. Ya masih di kawasan Baturraden juga sih. Jadwal ngajar privat hari itu aku cancel demi momong si Aa. Maaf ye admin, jadi repot nyari tentor pengganti. Sekali-sekali lah absen. Perijinan aman, artinya aku bisa seharian main sama Om dan Aa.

Selesai dandan ala kadarnya, cuma pakai wardah purifiying facial serum sama purifiying moisturizer gel (nggak lagi endorse yak), harusnya si pake sun block juga, tapi karena belum punya jadi nggak pakai, pukul 09.15 WIB meluncurlah kita bertiga ke, emh, aku nggak tahu nama tempatnya apa, soalnya nggak ada namanya. Intinya kita meluncur ke arah Wana Wisata Baturraden. FYI, Wana Wisata Baturraden beda yak sama Baturraden itu sendiri.

Formasinya, aku boncengan sama Aa dan si Om sendirian pake motor doi-ku. Sebenarnya si mau ajak doi juga. Tapi biasanya jam segitu dia belum bangun. Demi kebaikan, dari pada dia badmood gegara belum saatnya bangun tapi dibangunin, lebih baik jangan. Sebelum sampai di gerbang masuk Wana Wisata Baturraden, kita sempet berhenti sekitar 200 meter. Sedikit ragu karena sepi banget. Takutnya tutup gitu.

Eh ternyata ada beberapa onggok manusia yang keluar dari gerbang. Sepagi itu mereka sudah selesai piknik? Berangkat jam berapa coba? Hmm. Habis subuhan langsung cus kali. Setelah memastikan tempat wisata tersebut buka, kami bertiga menuju ke gerbang masuk untuk membeli tiket.

Harga tiketnya Rp. 13.000 per orang dan biaya parkir Rp. 5.000 per motor. Jadi, totalnya Rp. 49.000. Kirain ada tiketnya, ternyata nggak. Cuma dikasih struk pembayaran gitu. Tadinya aku simpen di tas buat difoto. Eh, malah nggak tahu ilang kemana.

Dari gerbang masuk menuju ke tempat yang kita tuju cukup jauh. Jalananannya berkelok-kelok tapi mulus. Pemandangan hijau di kiri kanan jalan dan udara sejuk khas pegunungan membuat perjalanan kita sangat mengasyikkan. Terasa seperti sedang di puncak Bogor gitu (padahal belum pernah ke sana, kira-kira aja. Hehe).

Si Aa yang notabenya anak kota, kegirangan kayak bocah habis menang lotre.

“Gila sih, sejuka benget, Mba!”

Sepanjang perjalanan, kita disuguhi pemandangan hutan yang masih asri. Pokoknya bikin mata seger deh. Sekitar 5-6 menit, kita sampai di kawasan Kebun Raya Baturraden. Skip, bukan itu tujuan kita. Seiktar 100 meter dari kawasan Kebun Raya Baturrraden, di kiri jalan terdapat papan bertuliskan Pancuran Pitu/ Tujuh.

Nah, jalan itu tuh yang bakalan kita tempuh. Tapi, tujuan kita bukan ke pancuran pitu yak. Jalurnya saja yang sama. Sayangnya nih, jalan tersebut rusak parah cuy. Ampun deh kalau aku nggak sanggup mengendarai motor sendirian. Sedikit deg-degan, takut jatuh euy.

Kabar baiknya, nggak semua ruas jalan rusak parah kok. Hanya di awal saja. Ya itung-itung bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Bedanya dengan pemandangan yang tadi, kali ini kita tidak hanya disuguhi hutan hijau, tapi juga deretan hutan pinus, rumah pohon, dan aneka wahana lain. Ada juga sekelompok Bapak-bapak sedang memasang payung warna warni.

Kita sempat berhenti, ingin berfoto di rumah pohon. Sayangnya lagi, rumah pohon yang ada kurang terawat. Nggak tahu juga kalau rumah pohon yang lain. Kalau yang kita temui kondisinya demikian.

Motor terus melaju menuju tempat yang kita maksud. Setelah melewati hutan pinus dan rumah pohon, dari kejauhan tampak sebuah gedung berwarna putih. Nah, itulah tujuan kita.

Bisa bayangin nggak ada gedung putih di tengah-tengah hijaunya hutan pinus? Kalau aku sih ngebayanginnya kek istana gitu, ada raja, ratu, putri dan pangeran. Ahai. Lokasinya benar-benar sepi waktu itu. Jadi terasa lagi privat holiday. Emh, mungkin karena lagi bulan Ramadan kali ya pada males main. Padahal, Sabtu kan weekend, biasanya ramai loh.

Nggak ada wahan sih di tempat tersebut, tujuannya emang aku pengin foto-foto aja. Hehe. Jadi, yang momong siapa yang dimong siapa. Aku kasih lihat penampakan hasil foto-fotonya nih. Maapkeun yak, pakai kamera hape yang resolusinya ala kadarnya.

Dokumen Pribadi: Aku dan Om (Masku)

 

Dokumen Pribadi: Aku dan Aa

 

Dokumen Pribadi: Aku lagi, hehe.

 

Dokumen Pribadi: Cihuyyy. Terbang cuy!

 

Dokumen Pribadi: Fotonya sambil ngebayangin lagi pakai gaun pengantin. Tjeess.

 

Meskipun nggak ada wahana, tapi tempat ini cocok banget buat spot foto loh. Pastinya aman juga, soalnya nggak ada spot yang extreme. Foto yang kalem-kalem aja lah ya, jangan aneh-aneh supaya nggak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Bagi kalian yang ingin foto pre wedding, bisa banget di lokasi ini. Kece banget cuy. Kebetulan, nggak lama setelah kita sampai di lokasi, ada calon pasangan pengantin yang mau take photo buat pre wedding. Duh, agak baper gitu jadinya aku. Buat kalian yang jomblo, juga boleh lah foto di sini. Foto sendirian juga romantis kok (anggap aja gitu).

Sebenarnya, bangunan depan dari tempat ini terdapat semacam tempat koservasi tanaman gitu. Dindingnya yang terbuat dari kaca membuat kita bertiga bisa melihat tanaman-tanaman yang ada di dalamnya. Ingin masuk sih, tapi nggak tahu caranya.

Puas berfoto, kita bertiga bertiga melanjutkan perjalanan ke arah pancuran pitu. Si Aa penasaran sama pancuran pitu kataya. Baru setengah jalan, balik lagi karena aku berhasil mempengaruhi dia agar berubah pikiran. Aku ingat pengalaman waktu SD ketika liburan keluarga ke Bautrraden, niatnya mau ke pancuran pitu, tapi di tengah jalan aku nangis karena capek nggak kuat menapaki anak tangga yang jumlahnya ribuan. Aku sangat lelah membawa beban badanku yang gembul saat itu.

Eh, tapi bukan alasan itu yang aku bisikkan ke Aa. Setelah putar balik dan keluar dari kawasan Wana Wisata Baturraden, kita menuju ke padang rumput, katanya si mirip New Zeland, ada sapi-sapinya gitu.

Sayangnya, sampai di sana sapi-sapinya nggak ada.

“Sapi lagi puasa, nggak makan rumput. Jadi nggak ada disini. Lagi di kandang,” gurau om. Ya sudahlah, kurang beruntung. Padahal kalau aku lihat di fotonya teman-teman, keren loh ada sapi-sapi. Untuk mengobati kekecewaan, aku berfoto di tengah padang rumput. Seger lihat yang hijau-hujau deh.

Dokumen Pribadi

Puas berfoto, kita bertiga melanjutkan perjalanan menuju ke Purbalingga. Kira-kira, kita mau kemana ya? Tunggu cerita travelling edisi Ramadan di postingan selanjutnya yak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here