Home / Juguran / Bangsa & Agama / Enam Frater Khatolik, Menanyakan Islam NU dan Islam Nusantara kepada Kyai

Enam Frater Khatolik, Menanyakan Islam NU dan Islam Nusantara kepada Kyai

(Para Frater ketika berfoto bersama para santri Pesma An Najah Purwokerto, 18/11)
(Para Frater ketika berfoto bersama para santri Pesma An Najah Purwokerto, 18/11)

BENER, Purwokerto – Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto menyambut kedatangan enam Frater Khatolik atau Calon Romo Khatolik yang tengah melaksanakan pendidikan di Yogyakarta. Mereka didampingi oleh GMS Agung Basuki, salah satu tokoh FKUB Banyumas, Sabtu (18/11).

Selain sowan kepada pengasuh pesantren, ke enam Frater tersebut juga diajak untuk melakukan dialog dengan santri. Acara tersebut dikemas dalam bentuk sarasehan dipandu oleh Bpk. Agung dan Dr. KH. Moh. Roqib, M.Ag sebagai narasumber.

Satu persatu para Frater memperkenalkan diri dan sedikit menceritakan terkait pengalaman hubungan dengan penganut Agama Islam. Diantaranya yaitu Jofie dari NTT, dia mengaku sangat sedikit sekali pengalaman dengan umat Islam, karena dilingkungannya memang mayoritas Khatolik, jadi ini pertama kali dirinya berhadapan langsung dengan santri.

Cornelius Cahya Sandi dari Lampung Timur, mengaku dari TK, SD-SMA belajar di sekolah negeri kemudian melanjutkan ke sekolah Calon Iman, jadi sebelumnya banyak berteman dengan siswa beragama Islam.

Jonathan Kristian Mothe dari bengkulu, mengaku bahwa selama 17 tahun rumahnya berdampingan dengan masjid, bahkan dirinya hafal doa buka puasa. Sementara Dion Suhendra dari Makassar, mengaku sewaktu SD dari satu kelas hanya dirinya saja yang beragama Khatolik, sedangkan yang lainnya Islam. “Saya sering mendapat perlakuan diskriminatif, seperti sepeda dikempesi oleh teman-teman, dan rodanya dilepas. Tetapi tidak semua teman dari Muslim demikian, saya juga punya beberapa sahabat yang Muslim. Saya sering diajak ke rumahnya untuk makan”. Jadi ia berkesimpulan bahwa tidak semua umat Islam bersikap diskriminatif terhadap minoritas, yang mau menerima agama lain menjadi teman juga banyak.

Boby dari Palembang, mengatakan bahwa di lingkungannya mayoritas muslim NU, dia yakin bahwa itu Muslim NU karena ia sering mendengar ada tahlilan. Jadi hubungan dengan teman-teman muslim akrab dan saling melengkapi. Dan yang terkahir Frater Altrasius dari Toraja.

GMS. Agung Basuki, memaparkan bahwa tujuan kunjungan enam Frater tersebut adalah untuk memahami secara langsung tentang Islam, agama yang mayoritas dianut oleh penduduk Indonesia. Hasil dari diskusi kali ini nantinya akan mereka presentasikan kepada dosen-dosen mereka.

Pada kesempatan tersebut Frater Jofie sekaligus mewakili Frater yang lainnya menanyakan secara langsung kepada Dr. KH. Moh Roqib, M.Ag, terkait dengan pandangan NU terhadap Khatolik, dan bagaimana terkait konsep Islam Nusantara sekaligus nilai-nilai yang ditawarkan.

Dr. KH. Moh. Roqib, M. Ag menjelaskan,”orang yang paling istimewa di NU adalah Kyai. Kalau Frater adalah Calon Romo prosesnya melalui pendidikan formal yang panjang, sedangkan Kyai hanya nyantri secara istiqomah sehingga ‘alim dan amil. Jadi tidak melalui pendidikan formal. Sebutan Kyai tersebut didapat dari pengakuan masyarakat, paling tidak yang bersangkutan juga banyak berkiprah di masyarakat serta mendirikan pesantren”.

 

NU lebih akomodatif dan Fleksibel terhadap Local Wisdom

Dalam konteks keagamaan, beliau mencontohkan antara NU dengan Muhammadiyah. Karena memang organiasi Islam variatif. Pengikut oraganiasi Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan yang kedua adalah Muhammadiyah. Beliau mengatakan bahwa NU lebih membumi dengan kebudayaan lokal (local wisdom). Ada istilah ‘urf yakni adat yang baik yang tidak bertentangan dengan syariat maka boleh dilakukan. Sedangkan Muhammadiyah tidak menerima. NU juga menerima kebudayaan lokal, seperti tahlilan atau mendoakan orang yang telah meninggal, sedangkan di Muhammadiyah tidak ada. Mereka menggunakan pegangan pada Al-Qur’an dan Hadist. Kalau tidak ada teks maka tidak berani melakukannya. Sehingga kalau NU berani meramu (mengintegrasikan) atas dasar yang telah disebutkan di atas, sedangkan Muhammadiyah tidak boleh. NU juga lebih akomodatif. Islam yang rahmatan lil’alamin. Ada konsep tasamuh, tawasut, dan tawazun. Dalam konsep tersebut menganggap bahwa semua manusia harus mendapat kasih sayang, manusia kepada hewan, manusia kepada tumbuhan, dan dilarang menyakiti sesama makhluk.

NU juga memiliki sense of humor. Kalau ingin mengetahui tokoh tersebut NU atau bukan, maka dapat dilihat, kalau tokoh tersebut senang humor, berarti tokoh tersebut adalah NU. Karena humor dalam NU merupakan kreativitas. Humor bisa jadi obat sakit jiwa. Di NU itu ada istilah humor sufi. Di dalam kitab ada. Tingkatan dalam humor, yakni membuat orang menjadi lucu karena ada perbedaan realitas dan idealitas. Sedangkan humor yang paling tinggi ialah seperti homornya Gus Dur. Humor Gus Dur itu tidak dianggap lucu oleh orang-orang kampung. Humor beliau cerdas, dan dianggap lucu oleh kalangan yang cerdas pula. Jadi lucu disini mengarah kepada kreativitas dan penyelarasan batin sebagai alat rekonsiliasi dan kritik yang bijak.

Kyai NU itu kalau sudah punya pendirian sulit diubah. Kyai kalau sudah ditarik ke wilayah masyarakat, akan lebih mengutamakan kemaslahatan. Contoh sederhana. Pada suatu ketika Gus Dur bersama 6 kyai naik mobil. Pada saat di mocil ada Kyai A yang sedang merokok dan tangannya dikeluarkan ke jendela. Salah satu kyai menasehati, “jangan merokok dulu, nanti saja kalau sudah sampai”. Namun Kyai A tersebut tidak menghiraukan. Begitu Gus Dur mengatakan, “kalau nanti tanganmu kesamber kendaraan lain lalu nabrak tiang listrik, bisa jadi memadamkan lampu tiga kecamatan, bagaimana…?”. Akhirnya kyai tersebut menghentikan isapan rokoknya. Jadi filosofinya, kalau kyai itu untuk keselamatan dirinya sendiri tidak diperdulikan, tetapi kalau untuk kemaslahatan umat sangat diutamakan. Maka demikianlah watak kyai kalau sudah punya pendirian susah untuk dirubah, namun kalau dibalik untuk kemaslahatan, pendirian beliau bisa dibalik pula.

 

Pandangan NU terhadap Non Muslim

Dahulu beliau berpandangan eksklusif terhadap non muslim, namun setelah nyantri di Krapyak, pada waktu itu ada seminar bersama Universitas Sanata Dharma. Pembicaranya Frans Magniz Suseno dari Non Islam dan Prof. Dr. Machasin yang merupakan tokoh NU. Sehingga beliau berkesimpulan, ternyata komunikasi dengan non Islam tidak ada masalah. Ada tenggang rasa.

Islam yang subtansi ajarannya mengarah kepada tasawuf biasanya lebih rukun. Contohnya wali, tidak ada ceritanya bermusuhan dengan Hindu-Buddha. Bahkan masjid di Kudus beralkulturasi dengan Hindu, Buddha dan Cina. Bahkan Sunan Kudus tidak memperbolehkan menyembelih sapi saat kurban atau pada hari-hari lainnya, karena sapi merupakan hewan yang disucikan oleh umat Buddha. Namun Islam yang literalis skriptualis memeliki jarak dengan agama lain, dan cenderung canggung kalau bertemu dengan Non Muslim.

 

Islam Nusantara

Menanggapi Islam Nusantara, beliau berpandangan bahwa Islam Nusantara adalah Islamnya para santri, sehingga sebagian orang Islam yang non santri banyak yang tidak suka dengan Islam Nusantara. Islam nusantara adalah islam yang ramah dengan budaya nusantara dan sekalipun terhadap umat agama lain. Islam nusantara berada di Indonesia dan negara di kawasan Asia Tenggara yang menggunakan Bahasa Melayu. Mereka memiliki wajah keislaman yang sama. Misalnya sholat Jumat, dimanapun sama caranya. Kalau di Brunei dan Thailand Selatan memang bermadzhab tunggal Syaifi’i, kalau di Indonesia menganut empat madzhab namun lebih kental menggunakan madzhab Syafi’i.

 

Islam dan Negara

Hubungan antara Islam dan Negara dalam hal ini Negara Indonesia adalah sudah final. Dengan kata lain meskipun mayoritas Indonesia beragama muslim namun tetap memilih menjadi negara Indonesia yang berideologi Pancasila. Sehingga sekarang bagaimana kita berpartisipasi agar negara kita menjadi lebih baik. Ikrar-ikrar dimana-mana kalau ada pengkaderan selalu dipadukan dengan bendera merah putih. Misalnya bendera NU disandingkan dengan bendera merah putih. Sehingga tangan kanan dan kiri sama-sama memegang kedua bendera tersebut. Jadi antara Islam dan Negara sudah tidak bisa diadu domba. Keputusan bentuk negara NKRI sudah final, tidak boleh diotak-atik lagi.

Waktu Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad. Maka yang demikian adalah fardhu untuk dilaksanakan. Sewaktu Yogyakarta ada huru-hara, 49 % wajib berangkat angkat senjata. Fatwa tersebut juga yang melatarbelakangi peristiwa 10 November yang sekarang dikenal sebagai Hari Pahlawan. Sebenarnya dalam peristiwa tersebut bukanlah peperangan, melainkan tawuran. Wong arek-arek Surabaya pada waktu itu menggunakan senjata apa anane, seperti ketapel, bambu runcing, batu nggo bandhemi, itu pun korbannya banyak. Karena sudah ada fatwa dari Kyai harus mempertahakan NKRI “khubul wattan minal iman”, maka mereka berani apapun taruhannya meski modal senjata apa anane. Meski demikian memang santri yang turun terjun ke aksi tersebut juga sudah dibekali doa oleh kyai, pantang mundur. Jadi maju terus. Nah pada akhirnya juga menewaskan Jenderal Malabi.

Hal tersebut merupakan salah satu contoh bagaimana ulama juga mempunyai peran besar terhadap tegakkanya NKRI. Jadi NKRI memang sudah final, tidak boleh di adu domba dan dipecah belah oleh siapapun. Perjuangan NKRI sudah cukup banyak menumpahkan darah. Jangan sampai ada lagi peristiwa yang serupa. Pada pejuang, termasuk ulama-ulama sekalipun taruhan mereka adalah darah bahkan nyawa. (Iis Sugiarti)

About Iis Sugiarti

Karena hidup hanya sekali, Maka berkaryalah

Check Also

(Akhmad Syaefuddin_Penulis Buku Pahala Kaos Kaki ketika tengah menerima kenang-kenangan dari Komunitas Pondok Pena)

Latih Analisis, Kuasai Kaidah Tata Bahasa Indonesia

SASTRI, Purwokerto – Forum Blak-blakkan Sastra untuk Tanah Air (Blakasuta) untuk yang keenam kalinya diselenggarakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *