(Penyambutan Rombongan Siswa Seminari Martayudan Magelang, 18/12)
(Penyambutan Rombongan Siswa Seminari Martayudan Magelang di Pesma An Najah Purwokerto, 18/12)

BENER, Purwokerto – Kunjungan delapan siswa Khatolik ke Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto disambut pengasuh dan santri dengan gembira, Selasa (18/12). Delapan siswa tersebut yakni Ian dari Klaten, Dimas dari Solo, Yohan dari Wonogiri, Riko dari Bantul, Wijaya dari Ngawi, Niko dari Solo, Thomas dari Magelang dan Apri dari Klaten. Mereka merupakan Siswa Seminari Menengah Petrus Canisius Mertoyudan atau akrab disebut Seminari Mertoyudan adalah suatu seminari menengah atau tempat pendidikan untuk para calon imam/pastor yang masih belajar pada tingkat SMA. Terletak di Mertoyudan, di pinggir jalan raya Magelang-Yogyakarta.

Kunjungan tersebut dipimpin oleh Romo Doddy, beliau menuturkan bahwa nantinya mereka akan tinggal di pesantren selama dua hari ke depan, menghayati kehidupan di pesantren, membaur bersama santri, mendekat kepada realitas keberagaman guna menjalin persaudaraan, meskipun berbeda keyakinan.

Hal tersebut merupakan program yang telah berjalan kurang lebih lima tahun untuk sowan kepada Kyai, belajar dan tinggal bersama di pondok pesantren di sekitar Magelang, sampai agak jauh di Klaten, Boyolali. Kemudian mencoba lebih jauh lagi mencari relasi persaudaraan di luar kota Magelang, secara khusus ke Pesma An Najah Purwokerto. Lalu ada juga yang ditempatkan di Petanahan dan Gombong, selebihnya masih berada di sekitar Magelang.

“Kami selama ini telah mencoba menjalin relasi dengan pondok pesantren di sekitar Magelang. Mencoba berkenalan dengan dunia santri dan sowan kepada Kyai. Ternyata di Magelang banyak tempat keagamaan yang bisa dipelajari,” tututnya.

Romo Doddy menyampaikan bahwa program tersebut berjalan karena mereka merasa perlu untuk belajar persaudaraan, mencoba menghayati kehidupan agama lain. Siswa-siswa tersebut juga telah sedikit belajar tentang agama Islam dari salah satu guru alumni IAIN yang mengajar di Seminari.

Dr. Moh. Roqib, M. Ag, selaku pengasuh Pesma An Najah pun menyambut baik dan mengucapkan selamat datang di pondok khusus mahasiswa. Beliau memperkenalkan sekilas potret Pesma An Najah yang memang didesain khusus untuk mahasiswa dan memiliki keunikan tersendiri. Beliau menuturkan bahwa kedatangan siswa Seminaris tersebut sudah dikoordinasikan ke lurah pondok, untuk diberi wawasan kepesantrenan, termasuk Osma (Organisasi Santri Mahasiswa), kegiatan santri putri/keputrian atau pun Kajian Fikih Nisa dan potret seputar keberagaman dan kerukunan yang terjalin di Banyumas. Terkait pakaian, beliau mempersilahkan untuk memakai pakaian seperti santri, pakai sarung, koko, dan peci jika berkenan.

“Kalau ngaji silahkan ikut tidak papa, nanti ustadnya dikasih tahu. Kalau mau berpakaian ala santri juga nggak papa silahkan. Dulu juga ada frater dari Jawa, Madura dan Lampung yang live in di sini pakai kostum ala santri, malah justru lebih pantas dari santri. Jadi nanti bergaul berkomunikasi, bertanya tentang ajaran agama juga boleh. Sudah barang tentu pemahaman santri berbeda dengan ustad dan Kyai. Jadi semakin tinggi keberagaman seseorang semakin tidak kaget dan mudah adaptasi. Kalau ada yang fanatik buta cenderung memiliki pemahaman yang sempit,” Jelas beliau.

Diakhir sarasehan penyambutan, Romo Doddy mewakili pimpinannya mengucapkan terimakasih kepada pengasuh Pesma karena telah mengizinkan siswa Seminari untuk belajar bersama.

“Jika nanti ada kesalahan, kami mohon maaf dan kami titip karena dua hari disini. Mudah-mudahan, menjadi berkah.”

Selain itu KH. Dr. Moh. Roqib juga memohon maaf tidak bisa mendampingi untuk dua hari ke depan karena akan menghadiri undangan rapat koordinasi dengan pemerintahan provinsi di Semarang. (Iis Sugiarti)

“Beda Ning Rukun!”

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here