Home / Komunitas / Latih Analisis, Kuasai Kaidah Tata Bahasa Indonesia

Latih Analisis, Kuasai Kaidah Tata Bahasa Indonesia

(Akhmad Syaefuddin_Penulis Buku Pahala Kaos Kaki ketika tengah menerima kenang-kenangan dari Komunitas Pondok Pena)

SASTRI, Purwokerto – Forum Blak-blakkan Sastra untuk Tanah Air (Blakasuta) untuk yang keenam kalinya diselenggarakan oleh Komunitas Pondok Pena di Aula SA Pesantren Mahasiswa An Najah, Minggu, (29/10).

Acara yang bertajuk Bedah Buku Kumpulan Esai “Pahala Kaos Kaki” karya Akhmad Saefudin ini, diramaikan oleh penulis-penulis Purwokerto, yakni Dimas Indiana Senja, Yanwi Mudrikah, Iis Sugiarti, Rima Dwi O, Efen Nurfiana dan Irna Novia Damayanti, Novelis Erin Cipta, Aulia Zulfa dan tamu dari Radio “Dian Suara FM”, serta diikuti oleh santri Pesma An Najah.

Dr. KH. Moh. Roqib, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan, “orang yang tidak peduli dengan sastra maka orang itu tidak bisa memahami Al Qur’an dan bila seseorang ingin mengukir sejarah dan dikenang oleh anak cucu maka menulislah atau jadilah orang pintar yang seluruh kehidupannya ditulis oleh seseorang”.

“Orang meninggal hanya membawa amal dan kain kafan, tidak yang lainya. Anak cucu tidak akan mengenal kita apabila kita tidak menulis atau ditulis oleh orang lain, seperti layaknya Gus Dur yang setiap tingkah laku, ucapan serta candaannya yang banyak di tulis oleh orang lain. Kita yang menentukan kita mau menjadi seperti Gus Dur atau nama kita hanya sekedar tertulis di Batu Nisan “. Lanjut beliau.

(Komunitas Pondok Pena setelah menampilkan Dramatisasi Puisi/ dok.penulis)

 

Dari kumpulan esai yang terdapat pada buku Pahala Kaos Kaki, Heru Mulyadi yang didapuk sebagai pembedah memfokuskan esai yang membahas tentang kesusastraan. Salah satunya yaitu Nilai ‘n-Ach dalam Karya Sastra. Menanggapi esai dari Saefudin, menurutnya bahwa ada salah satu dongeng/legenda Malin Kundang yang durhaka terhadap ibunya, telah mengilhami sinetron-sinstron Indonesia meski dengan modifikasi yang beragam. Namun efek yang ditimbulkan adalah sama yakni mudah menyentuh perasaan, bahkan menimbulkan kaharuan, karena kisah tersebut berakhir tragis. Perlu diingat bahwa karya sastra yang mempunyai nilai ‘n-Ach yang tinggi dapat mempengaruhi semangat bangsa. Ia juga menyimpulkan bahwa “negeri ini masih suka acara ketawa-ketiwi yang tidak jelas serta melow, sementara pemerintahannya masih seperti si kancil”, sebutnya di akhir pembedahan.

Akhmad Saefudin menyampaikan, “esai ini adalah esai pertama saya yang dimuat di Tabloid Karina. Coba ketika kalian mau menulis esai, dan esainya menanggapi esai yang dikoran, dengan tema sama tetapi mempunyai pandangan berbeda, pasti akan banyak yang memuatnya, dan esai dibaca kapanpun tidak akan pernah basi”, terangnya.

Menurut beliau, ketika menulis ia tidak memikirkan teori apapun, ia menulis apa yang ada dipikirannya, bahkan tidak mengenal apakah tulisannya paradoks atau bukan, yang terpenting, ketika menulis, kita bisa menganalisis dan mampu menguasai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Ada dimensi-dimensi kecil yang harus kita sorot. Bahasa-bahasa Indonesia beserta kaidahnya harus kita kuasai”. Begitulah kesimpulan yang diambil sang moderator, Dewandaru Ibrahim di penghujung acara.

Setelah sesi bedah buku dan sesi diskusi tanya-jawab selesai dilanjutkan dengan penampilan dari Komunitas Pondok Pena yaitu Dramatisasi Puisi “Sajak Sebatang Lisong” karya WS. Rendra, setelah itu dilanjut dengan menyanyikan lagu “Serumpun Padi”. (RD/RY/HP/AK/ANAW/BS/QK)

About Iis Sugiarti

Karena hidup hanya sekali, Maka berkaryalah

Check Also

(GMS Agung Basuki saat memberikan Sosialisasi PILKADA kepada Santri Pesma An Najah Purwokerto, 28/11)

Ingin Mengubah Peta Bangsa Menjadi Lebih Baik, Maka Jangan Golput!

AnNajahNews, Purwokerto – Selasa, (28/11) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Banyumas adakan sosialisasi PILKADA di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *