Jika kamu melewati Jalan Jendral Soedirman, sekilas memang nggak ada tanda-tanda keberadaan museum. Karena deretan kantor lainnya dan pepohonan yang cukup rindang menyamarkan keberadaan musem yang satu ini, yakni Museum Bank Rakyat Indonesia (BRI) Purwokerto. Ditambah lagi dengan bangunannya yang menyerupai rumah kuno, hmm, nggak kelihatan kayak Museum. Banyak orang mengira bangunan ini cuma perkantoran biasa. Tapi, bagi yang jeli pasti tahu kalau banguanan tersebut adalah Museum BRI.

Lokasi Museum sangat mudah dijangkau karena dekat dengan pusat kota, yakni sekitar 1 km dari Alun-alun Purwokerto, tepatnya di Jalan Jendral Soedirman No. 57, Purwokerto. Tidak ada pungutan biaya untuk masuk ke Museum ini geng.

Museum BRI terdiri dari dua lantai. Walaupun nggak seluas musem-musem lainnya, koleksi di Museum ini lumayan banyak kok. Di lantai pertama, kamu bakalan disambut sama patung bernama Kuwera. Perutnya gendut, memakau gelang tangan dan gelang kaki, kalung, mahkota dan terdapat pundi uang di bawah bantal kursi. Menurut kepercayaan Hindu, Kuwera merupakan simbol Dewa Kemakmuran.

Banyak koleksi uang yang bisa kamu temukan di lantai pertama yang memang dikhususkan untuk meletakkan uang-uang kono sekaligus diorama sejarah bank di Indonesia, terutama Bank Rakyat Indonesia.

rudysalam18.blogspot.com

 

Diorama tersebut menceritakan awal mula berdirinya Bank Rakyat Indonesia, yakni pada tahun 1894. Ketika itu Raden Aria Wiriatmadja menghadiri pesta khitanan temannya yang berprofesi sebagai Guru. Pesta diselenggarakan dengan mewah, hidangan yang disajikan juga melimpah, selain itu juga dihadiri oleh para petinggi. Raden Aria terheran-heran, karena bagaimana bisa Guru yang pada saat itu gajinya sangat minim mampu menggelar acara sedemikian mewahnya.

Keheranannya terjawab, ternyata temannya mendapatkan uang pinjaman pelepas uang (rentenr) dengan bunga yang sangat tinggi. Hati Raden Aria tergerak untuk memberikan pinjaman dengan bunga rendah agar temannya bisa melunasi hutang. Ternyata bukan hanya temannya yang mengalami hal demikian, banyak priyayi juga terjerat hutang kepada rentenir. Raden Aria kemudian berinisiatif menggunakan uang masjid untuk digunakan sebagai dana simpan pinjam berbunga rendah.

Kabar tersebut sampai di telinga E. Sieburgh, selaku Atasan Asisten Residen. Dia melarang pengguankan kas masjid selain untuk keperluan masjid. Setelah peristiwa tersebut, turun surat resmi dari pemerintah untuk mendirikan sebuah bank perkreditan rakyat pertama bagi pribumi. Bank tersebut pertamakali beroperasi pada tanggal 16 Desember 1895 dan diberi nama Hulp en Spaarbank der Inlandsce Bestuurs Ambtenaren (Bank bantuan dan Simpanan Milik pegawai Pangreh Praja Berkebangsaan Pribumi)

Pada tahun 1898, namanya berubah menjadi De Poerwokertosche Hulp Spaar en Landbouw Credietbank (Bank Bantuan, Simpanan dan Kredit Usaha Tani Purwokerto) dan berada di bawah pengawasan Asisten Residen Banyumas, WPD de Wolff van Westerrode.

Sebelum ahkirnya ditetapkan sebagai Bank Rakyat Indonesia pada tahun 1967, Bank ini sempat berganti nama menjadi Bank Koperasi, Tani dan Nelayan (BKTN) pada tahun 1960. Sedangkan untuk peresmian Museum BRI sendiri dilaksanakan pada 19 Desember 1990 oleh Kamardy Arief selaku Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia pada saat itu.

Panjang juga yak geng sejarahnya. Berlanjut ke koleksi uang nih. Di Museum BRI Purwokerto terdapat beragam koleksi uang, baik berupa logam maupun kertas, antara lain sebagai berikut:

Uang Gobog

www.imgrum.org

 

Uang gobog merupakan koleksi uang dari zaman Kerajaan Majapahit (1293-1522) yang terbuat dari campuran kuningan, perunggu, tembaga dan timah. Uang gobog terbagi menjadi dua jenis, yakni Gobog besar dan Gobog kecil. Di salah satu sisinya bergambar bergambar tokoh pewayangan seperti Semar, Arjuna, Srikandi, dan Togog. Sementara sisi lainnya bertuliskan angka yang menunjukkan tahun yakni abad XIII – XVI M

Uang Kepeng Cina

www.imgrum.org

 

Uang Kepeng Cina merupakan uang yang digunakan pada msaa Kerajaan Majapahit awal, berasal dari Wangsa Tang, Ming, dan Qing (618-1912)

Mata Uang VOC

kreditgogo.com

 

Mata uang VOC pada awal abad ke-17 yang ada di Museum Bank Rakyat Indonesia antara lain, Stuiver, Doit, dan Silver Ryder (Dukaton). Mata uang tersebut dicetak oleh pemegam saham VOC “Hereen XVII” (the Seventeen Gentlemen di Amsterdam).

Uang Jepang

hukumonline.com

 

Uang Jepang terdiri dari 3 emisi, yaitu Emisi ke-I De Japansche Regeering, satuannya sen dan Gulden bernilai 1, 5, 10 Cent, serta ½, 5 dan 10 Gulden. Emisi ke-II Pemerintah Dai Nippon, dan Emisi ke-III Dai Nippon Teikoku Seishu yang beredar pada 1943, menggunakan bahasa Indonesia dengan satuan Rupiah, terdiri dari pecahan bernilai ½, 1, 5, dan 10 Rupiah.

Selain itu, ada juga koleksi uang ORI I dengan nominal 1 rupiah yang ditandatangani oleh Menteri Keuangan A.A. Maramis pada tanggal 17 Oktober 1945 dan baru beredar pada 30 Oktober 1946.

Puas belajar sejarah bank dan melihat koleksi uang zaman dulu, saatnya naik ke lantai dua untuk melihat koleksi mesin-mesin perbankan kuno, salah sataunya mesin pembukuan. Berikut ini fotonya.

virustravelling.com

 

Selain mesin, kamu juga bisa menemukan brankas yang digunakan untuk menyimpan uang oleh orang-orang zaman dulu.

m.tribunnews.com

 

Yang menarik lagi adalah adanya koleksi barang pribadi milik Raden Aria Wirjaatmadja yang tertara rapih dan masih terjaga keasliannya.

Geng, kalau kamu berkunjung ke Museum Bank Rakyat Indonesia Purwokerto memang nggak akan menemukan spot yang instagrammable. Tapi, nilai sejarah yang bisa kamu pelajari disini lebih berharga ketimbang foto ala-ala zaman now. So, berkunjunglah ke Museum Bank Rakyat Indonesia Purwokerto, supaya kamu tahu uang zaman now itu asalnya dari mana dan supaya kamu lebih bisa menghargai uang (read: jangan lipat uang).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here