Belajar menurut pandangan Jean Piaget

Belajar menurut pandangan Jean Piaget = Seorang pakar biologi dari Swiss Jean Piaget dilahirkan di Neuchâtel, Swiss pada tanggal 9 Agustus 1896. Jean Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana tujuan individu melalui suatu rangkaian yang secara kulitatif berbeda dalam berpikir. Hal yang diperoleh dalam satu peringkat akan merupakan dasar bagi peringkat selanjutnya. Piaget memandang bahwa kognitif terbentuk melalui interaksi yang konstan antara individu dengan lingkungan melalui dua proses yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi ialah proses penataan segala sesuatu yang ada di lingkungannya, sehingga menjadi dikenal oleh individu.

Adaptasi ialah proses terjadinya penyesuaian antara individu dengan lingkungan. Adaptasi terjadi dalam dua bentuk, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi ialah proses menerima dan mengubah apa yang diterima dari lingkungan agar bersesuaian dengan dirinya. Akomodasi adalah proses individu mengubah dirinya agar bersesuaian dengan dirinya. Akomodasi adalah proses individu mengubah dirinya agar bersesuaian dengan apa yang diterima dari lingkungannya. Di samping itu, interaksi dengan lingkungan dikendalikan oleh adanya prinsip keseimbangan (equilibrium) yaitu upaya individu agar memperoleh keadaan yang seimbang antara keadaan dirinya dengan tuntutan yang dating dari lingkungannya.

Intelegensi merupakan dasar bagi perkembangan kognitif. Intelegensi merupakan suatu proses berkesinambungan yang menghasilkan struktur dan diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan. Dari interaksi dengan lingkungan, individu akan memperoleh pengetahuan dengan menggunakan asimilasi, akomodasi, dan dikendalikan oleh prinsip keseimbangan. Pada masa bayi dan kanak-kanak, pengetahuan itu bersifat subjektif, dan akan berkembang menjadi objektif apabila sudah mencapai perkembangan remaja dan dewasa.

Perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan berpikir logis dari masa bayi hingga dewasa, yang berlangsung melalui empat peringkat(Sumanto, 2013:154) yaitu:

Peringkat sensomotorik : 0 – 2 tahun

Peringkat preoperasional : 2 – 7 tahun

Peringkat concrete operasional : 7 – 11 tahun

Peringkat formal operasional : 11 tahun ke atas

Dalam peringkat sensorimotor (0-2 tahun), aktivitas kognitif berpusat pada aspek alat indera (sensori) dan gerak (motor). Artinya, dalam peringkat ini anak hanya mampu melakukan pengenalan lingkungan dengan melalui alat inderanya dan pergerakannya. Keadaan ini merupakan dasar bagi perkembangan kognitif selanjutnya. Aktivitas sensori motor terbentuk melalui proses penyesuaian struktur fisik sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.

Dalam peringkat pre-operasional (2-7 tahun) anak telah menunjukkan aktivitas kognitif dalam menghadapi berbagai hal di luar dirinya. Aktivitas berpikirnya belum mempunyai sistem yang terorganisasikan. Anak sudah dapat memahami realitas di lingkungan dengan menggunakan tanda-tanda dan simbol. Cara berpikir anak pada peringkat ini bersifat tidak sistematis, tidak konsisten, dan tidak logis. Cara berpikir anak tingkat ini ditandai dengan ciri-ciri:

(a) tranductive reasoning, yaitu cara yang bukan induktif dan deduktif tetapi tidak logis,

(b) ketidakjelasan hubungan sebab akibat secara tidak logis,

(c) animism, yaitu menganggap bahwa semua benda itu hidup seperti dirinya,

(d) artificialsm, yaitu kepercayaan bahwa segala sesuatu di lingkungannya itu mempunyai jiwa seperti manusia,

(e) perceptually bound, yaitu anak menilai sesuatu berdasarkan apa yang dilihat atau di dengar,

(f) mental experiment, yaitu anak mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapinya,

(g) centration, yaitu anak memusatkan perhatiannya kepada sesuatu ciri yang paling menarik dan mengabaikan ciri yang lainnya,

(h) egocentrism, artinya anak melihat dunia lingkungannya menurut kehendak dirinya sendiri.

Dalam peringkat concrete operational (7-11 tahun), anak telah dapat membuat pemikiran tentang situasi atau hal konkrit secara logis. Perkembangan kognitif pada peringkat operasional konkret, memberikan kecakapan anak untuk berkenaan dengan konsep-konsep klasifikasi, hubungan dan kuantitas. Konsep kualifikasi adalah kecakapan anak untuk melihat secara logis persamaan-persamaan suatu kelompok objek dan memilihnya berdasarkan ciri-ciri yang sama. Konsep hubungan ialah kematangan anak memahami hubungan antara suatu perkara dengan perkara lainnya. Konsep kuantitas yaitu kesadaran anak bahwa suatu kuantitas akan tetap sama meskipun bentuk fisiknya berubah, asalkan tidak ditambah atau dikurangi.

Peringkat formal operational (12 tahun ke atas), perkembangan kognitif ditandai dengan kemampuan individu untuk berpikir secara hipotesis dan berbeda dengan fakta, memahami konsep abstrak, dan mempertimbangkan kemungkinan cakupan yang luas dari perkara yang sempit. Perkembangan kognitif pada peringkat ini merupakan ciri perkembangan remaja dan dewasa menuju kearah proses berpikir dalam tingkat yang lebih tinggi. Peringkat berpikir ini sangat diperlukan dalam pemecahan masalah (problem solving).

Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan peringkat perkembangan kognitif siswa. Siswa hendaknya banyak diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya, dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada siswa agar mau berinteraksi dengan lingkungan dan secara aktif mencari dan menemukan berbagai hal di lingkungannya. Kurikulum hendaknya dibuat sedemikian rupa agar tidak terpisahkan dari lingkungan sosial budaya anak (Marhaeni, 2013:25-27). Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran, diantaranya.

1. Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu, dalam mengajar guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak.

2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu agar anak dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan sebaik-baiknya.

3. Bahan pelajaran yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing baginya.

4. Beri peluang agar anak belajar sesuai dengan peringkat perkembangannya.

5. Didalam kelas, anak-anak hendaknya banyak diberi peluang untuk saling berbicara dengan teman-temannya dan saling berdiskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here