Home / Juguran / Ada Hikmah di Balik Wisuda
maulasam.id

Ada Hikmah di Balik Wisuda

Semalaman saya hampir tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini, hari wisuda. Sabtu, 3 Maret 2018, ketiga sahabat saya melangsungkan wisuda. Mereka berhasil menempuh pendidikan S1 dalam waktu 3,5 tahun saja. Bahkan, salah satu dari mereka menjadi wisudawan terbaik Institut. Sementara saya, masih menjadi mahasiswa. Kita berempat sebenarnya sudah mempunyai mimpi sejak semester awal bahwa kita akan wisuda bersama. Saya mengiyakan pada waktu itu dan saya gagal mewujudkannya.

Semalan saya menimbang, akankah datang ke wisuda mereka? Sepertinya akan sulit bertemu mengingat banyaknya orang yang berjubal. Mending tidak usah datang, toh mereka pasti sibuk dengan keluarga masing-masing. Di momen seperti ini tentulah keluarga menjadi yang utama. Ya, saya tidak perlu datang. Toh saya sudah datang di sidang munaqosyah mereka. Cukup update status di WhatsApp dan Instagram, mengucapkan selamat atas wisuda mereka, lalu jangan lupa kirim pesan juga di WhatsApp.

Beberapa menit saya setuju dengan keputusan awal saya, tapi kemudian ada perasaan tidak enak. Masa iya sahabat wisuda tapi saya tidak datang? Ini adalah hari spesial mereka. Mending saya datang. Iya saya datang.

Dengan mengambil keputusan tersebut, tentu saya sudah tahu resikonya. Pertama, belum tentu bisa bertemu. Kedua, mereka sibuk dengan keluarga masing-masing. Ketiga, bisa saja saya sedih atau iri melihat teman seangkatan sudah ada yang diwisuda. Keempat, nah, ini yang paling horor, yakni ditanya ‘kamu kapan wisuda’ , ‘loh, kirain kamu wisuda sekarang’ , atau pertanyaan dan pernyataan semacamnya.

Siap tidak siap, saya harus siap. Saya langsung memesan 10 tangkai bunga ke teman saya. Bukan hanya untuk sahabat saya, tapi juga untuk teman kelas saya yang lain. Resiko pertama tidak terjadi, karena saya berhasil bertemu dengen mereka, mengucapkan selamat, menyaksikan rona bahagia dan haru mereka, dan memberikan setangkai bunga.

Resiko kedua, emhh, mereka memang sibuk dengan keluarga masing-masing dan beberapa anggota organisasi yang mereka ikuti. Bahkan, saya sama sekali tidak sempat berfoto dengan mereka. Saya cukup mengerti, tidak apa.

Resiko ketiga, ternyata saya merasa sedih dan kecewa pada diri sendiri. Rasanya sakit membayangkan jika saja saya juga wisuda di hari ini, betapa bahagianya kedua orang tua saya. Beberapa kali saya mengutuki diri sendiri dan terus menyakiti diri sendiri. Sengaja, saya sengaja melakukannya. Kenapa?

Karena rasa sakit dan kecewa biasanya akan membuat kita lebih kuat untuk bangkit dibandingkan rasa bahagia yang seringnya justru membuat kita lalai dan santai (ahai, lagi sok apa nggak tau nih). Diantara kerumunan orang, saya terus mencari apapun yang membuat hati saya semakin tercabik. Siapa tahu, sepulang dari wisuda saya kembali semangat untuk mengerjakan skripsi.

Resiko keempat, hmmm, sebenarnya resiko ini sudah saya alami sejak pertama saya berjalan dari parkiran menuju ke tempat utama dilangsungkannya wisuda. Nyali saya untuk bertemu dengan orang-orang yang saya kenal semakin diuji. Satu per satu wajah yang familiar menyapa saya dengan senyum, kemudian dahi mulai berkerut, “Loh! Kirain wisuda sekarang. Itu parternya pada wisuda sekarang loh”

“Saya mau wisuda tepat waktu. Kalau mereka kan nggak tepat waktu, karena kecepetan.”

Sepulang dari wisuda, saya merebahkan diri di tempat tidur. Hari ini mereka memang dihujani ucapan selamat, sedangkan besok ketika mereka pulang ke rumah akan dihujani pertanyaan, ‘kapan kerja, kerja dimana, kok belum kerja-kerja’. Hix. Sepertinya mereka juga akan mengalami uji nyali. (Eh tapi, teruntuk sahabat dan teman-temanku, aku pasti mendoakan agar kalian lekas dapat kerjaan dan tidak perlu berlama-lama uji nyali).

Mending saya ternyata, pulang ke rumah ditanya tetangga, “Udah semester berapa? Kapan lulus?”

Dengan bangganya saya akan menjawab, “Baru masuk semseter 8 kemarin bulan februari. Sebentar lagi lulus kok. Sekarang lagi penelitian.”

Tetangga pasti akan mengira saya ini jos, baru masuk semester 8 tapi sudah dalam proses melakukan penelitian dan sebentar lagi selesai. Hixhix.

About April

Cuaca pasti berubah. Tapi tetaplah menjadi langit yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *